Hannypoeh's Blog

IKHLAS BHAKTI BINA BANGSA BERBUDI BAWA LAKSANA

STRATEGI PEMBELAJARAN KREATIF PRODUKTIF

pada Desember 18, 2011

MAKALAH
STRATEGI PEMBELAJARAN KREATIF PRODUKTIF
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran

DOSEN PEMBIMBING :
M. Mukhtar Saefudin, M.Ag

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK V
1. HANIFAH GANDA UTAMI
2. SITI NUR ROHMAH
3. SUBIYAN HANDOKO

S1 PGMI / IV A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDATUL ULAMA
( STAINU ) KEBUMEN
TAHUN AKADEMIK 2010 / 2011

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr .wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Pembelajaran yang kami beri judul “Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif“.
Dalam penulisan karya tulis ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Mukhtar Saefudin, M.Ag selaku pembimbing mata kuliah Perencanaan Pembelajaran.
2. Kedua orang tua kami yang telah memberi motivasi kepada kami.
3. Teman-teman kami yang telah memberi semangat.
4. Serta semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini.
Tidak ada yang dapat kami perbuat untuk membalas budi semua pihak kecuali mendoakan semoga amal baik yang telah diberikan kepada kami termasuk amal shaleh yang diterima di sisi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan kami. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Kebumen, Maret 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
A. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
B. Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
BAB II PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
A. Pengertian Pembelajaran Kreatif Produktif. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
B. Prosedur Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif . . . . . . . . . . . . .
C. Kaitan Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif dengan Pembelajaran Individu. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
D. Prosedur Mengembangkan Kreativitas. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
E. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
F. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Belajar bukan hanya sekedar tahu, menguasai ilmu dan menghafal semua teori yang dihasilkan orang lain, tetapi belajar merupakan proses berpikir. Namun pada kenyataannya dalam pembelajaran seorang guru masih menggunakan metode yang monoton dan kurang sesuai dengan materi yang diajarkan dan karakteristik siswa.
Dengan pembelajaran yang demikian akan sangat membosankan bagi siswa sehingga motivasi belajar siswa akan menjadi semakin rendah. Akibat yang lebih jauh adalah siswa akan malas untuk belajar dan kemampuan siswa tidak akan tergali secara maksimal. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kemampuan siswa yaitu dengan pembelajaran kreatif produktif sehingga diharapkan belajar akan mudah dan menyenangkan bagi setiap siswa.
Melihat dari masalah itu kami dari penulis mencoba untuk membahas tentang strategi pembelajaran kreatif produktif. Tidak terlepas dari hal ini semoga makalah ini bisa membantu kesulitan teman-teman dalam memahami tentang strategi pembelajaran kreatif produktif.

B. RUMUSAN MASALAH
1) Apakah yang dimaksud dengan strategi pembelajaran kreatif produktif?
2) Bagaimanakah prosedur pelaksanaan stretegi pembelajaran kretif produktif?
3) Bagaimana kaitan strategi pembelajaran kreatif produktif dalam pembelajaran individual?
4) Bagaimanakah prosedur mengembangkan kreativitas ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif
Model pembelajaran kreatif produktif khusus dirancang untuk pembelajaran apresiasi sastra, namun pada perkembangannya terjadi berbagai modifikasi sehingga model ini dapat di gunakan untuk pembelajaran baik di jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun pada jenjang pendidikan tinggi.
Strategi pembelajaran kreatif produktif adalah strategi dari model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
Pembelajaran ini berpijak kepada teori konstruktivistik dimana belajar adalah usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya, dengan demikian dalam pembelajaran ini para siswa diharapkan dapat mengkonstruksi sendiri konsep atau materi yang mereka dapatkan. Pendekatan pembelajaran kreatif produktif antara lain : belajar aktif, kreatif, konstruktif serta kolaboratif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.
Pembelajaran kreatif produktif diawali dengan adanya sifat aktif si belajar. Aktif dapat diartikan sebagai keterlibatan si belajar secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran untuk mengkonstruksi pengetahuannya.
Otak lebih mengingat hal-hal yang dapat kita lakukan, bukan yang kita tidak dapat lakukan, dan penggunaan yang biasa, bukan yang tidak biasa. Kita dapat mengenali banyak hal tanpa harus berpikir. Berpikir kreatif menuntut kita untuk melepaskan diri dari pola biasa yang telah disimpan otak.
Untuk dapat membantu anak melepaskan diri dari pola-pola biasa, diperlukan sikap positif berupa pemikiran bebas atau berfantasi dan pengambilan resiko. Langrehr (2006) mengemukakan lima aspek sikap yang baik untuk berpikir kreatif dengan menggunakan akronim FIRST (fantasy, incubate, risk take, sensitivity, titillate).
Pemikir kreatif berani mengambil resiko demi mengharapkan sesuatu yang unik dan berguna. Pembelajaran kreatif dan produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.Pendekatan tersebut antara lain: belajar kreatif, aktif, konstrutifistik, dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut, di integrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan si belajar mengembangkan kreatifitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.
Pembelajaran kreatif produktif ini berlandaskan pada prinsip-prinsip dasar :
1. Keterlibatan siswa secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran.
2. Siswa didorong untuk menemukan / mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara seperti observasi,diskusi atau percobaan.
3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama.
4. Untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias serta percaya diri.
Dengan mengacu pada karakteristik tersebut, model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran berbagai bidang studi, baik topik-topik yang bersifat abstrak maupun yang bersifat konkret. Materi yang sesuai dengan model pembelajaran tersebut merupakan materi yang menuntut pemahaman yang tinggi terhadap nilai, konsep atau masalah actual di masyarakat serta ketrampilan menerapkan pemahaman tersebut dalam bentuk karya nyata. Materi ini dapat berasal dari berbagai bidang studi, seperti apresiasi sastra dari bidang studi bahasa Indonesia, masalah ekonomi dari IPS, masalah polusi dari IPA dan lain sebagainya.
Pembelajaran ini bertujuan untuk :
1. Memahamkan konsep terhadap suatu nilai, konsep atau masalah tertentu.
2. Mampu menerapkan konsep / memecahkan masalah.
3. Mampu mengkreasikan sesuatu berdasarkan pemahaman tersebut.
Beberapa karakteristik dalam pembelajaran kreatif produktif adalah sebagai berikut :
1. Keterlibatan mahasiswa secara intelektual dan intraksional. Keterlibatan ini di fasilitasi melalui pemberian kesempatan kepada si belajar untuk melakukan eksplorasi dari konsep di bidang ilmu yang sedang dikaji serta menafsirkan hasil eksplorasi tersebut.
2. Si belajar didorong untuk menemukan atau mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti observasi, diskusi dan percobaan.
3. Si belajar diberi kesempatan untuk bertanggungjawab menyelesaikan tugas bersama.
4. Pada dasarnya untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias serta percaya diri.
B. Prosedur Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif
Materi yang disajikan dengan model pembelajaran kreatif produktif ini merupakan materi yang menuntut pemahaman yang tinggi terhadap nilai, konsep, atau masalah actual di masyarakat serta ketrampilan menerapkan pemahaman tersebut dalam bentuk karya nyata.
Kegiatan pembelajaran ini dibagi menjadi 4 langkah yaitu:
1. Orientasi
Kegiatan pembelajaran diawali dengan orientasi untuk mengkomunikasikan dan menyepakati tugas dan langkah pembelajaran. Guru mengemukakan tujuan, materi, waktu, langkah, hasil akhir yang diharapkan dari siswa serta penilaian yang diterapkan. Siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya. Dengan negosiasi tersebut diharapkan akan terjadi kesepakatan antara guru dan siswa.
2. Eksplorasi
Pada tahap ini, peserta didik melakukan eksplorasi terhadap masalah / konsep yang akan dikaji. Eksplorasi dapat dilakukan dengan membaca, melakukan observasi, wawancara, menonton satu pertunjukan, melakukan percobaan, browsing lewat internet dsb. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan secara individu maupun kelompok. Agar eksplorasi menjadi terarah, sebaiknya guru memberikan panduan singkat yang memuat tujuan, materi, waktu, cara kerja, serta hasil akhir yang diharapkan.
3. Interpretasi
Dalam tahap interpretasi, hasil eksplorasi diinterpretasikan melalui kegiatan analisis, diskusi, tanya jawab, atau bahkan berupa percobaan kembali , jika memang diperlukan.
4. Re-kreasi
Pada tahap re-kreasi, siswa ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang mencerminkan pengalamannnya terhadap konsep / topic / masalah yang sedang dikaji menurut kreasinya masing-masing. Misalnya siswa dapat diminta membuat satu scenario drama dari novel yang sedang dikajinya. Rekreasi dapat dilakukan secara individu ataupun kelompok. Hasil re-kreasi merupakan produk kreatif yang dapat dipresentasikan, dipajang atau ditindak lanjuti.
5. Evaluasi
Pembelajaran kreatif produktif dapat dievaluasi pada saat proses pembelajarannya dan pada akhir pembelajarannya. Selama proses pembelajaran, evaluasi dapat dilakukan dengan mengamati sikap dan kemampuan berfikir si belajar kesungguhan mengerjakan tugas hasil eksplorasi, kemampuan berpikir kritis dan logis dalam memberikan pandangan. Evaluasi pada akhir pembelajaran dapat dilakukan dengan mengevaluasi produk kreatif yang dihasilkan si belajar dengan kriteria penilaian dapat disepakati bersama pada waktu orientasi.
Kelemahan pembelajaran kreatif produktif
Beberapa kelemahan yang terkait dengan pembelajaran kreatif produktif ini antara lain:
a) ketidaksiapan si belajar dengan guru dalam proses pembelajaran ini.
Ketidaksiapan mahasiswa membuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat di eksplorasi dan diskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan.
b) Model pembelajaran ini memelukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel.

C. Kaitan Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif dengan Pembelajaran Individu
Untuk membentuk karakter kreatif dan produktif menuju terciptanya kemandiriannya bagi siswa, maka dikembangkan siklus belajar yang meliputi lima aspek pengalaman belajar sebagai berikut :
1. Exploring
Merespon informasi baru, mengeksplorasi fakta-fakta dengan petunjuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan dengan orang lain atau mengambil informasi dari guru atau sumber-sumber yang lain.
2. Planning
Menyusun rencana kerja, mengidentifikasi alat dan bahan yang diperlukan, menentukan langkah-langkah, desain karya dan rencana lainnya.
3. Doing / acting
Melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, membuat karya dan melaporkan hasilnya serta menyelesaikan masalah.
4. Communicating
Mengkomunikasikan / mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, penemuan, atau hasil karyanya, sharing dan diskusi
5. Reflecting
Mengevaluasi proses dan hasil yang telah dicapai, mencari kelemahannya guna meningkatkan efektivitas perencanaan.

Pembelajaran Individual adalah pembelajaran yang bersifat klasikal yang memperhatikan potensi- potensi setiap individu agar berkembang dengan baik. Penggunaan strategi pembelajaran ini dalam pembelajaran individual diharapkan potensi setiap individu akan berkembang yakni membentuk kemampuan berpikir kritis dan kreatif, bertanggung jawab serta bekerja sama. Sehingga hasil dari pembelajaran ini tidak hanya segi kognitif, tetapi segi afektif dan psikomotorik juga akan tercapai, bahkan kecerdasan akan lebih terlihat dari setiap siswa.
D. Prosedur Mengembangkan Kreativitas
Para siswa dibimbing agar memiliki kemampuan kreativitas, mampu berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah. Karena itu, melalui proses belajar tertentu, diupayakan tercapainya tujuan-tujuan tersebut. Guru perlu menyediakan kondisi-kondisi belajar yang memungkinkan terjadinya penambahan aspek keluwesan, keaslian, dan kuantitas dari abilite kerativitas yang dimiliki oleh para siswa.
Langkah ke-1 Mengklasifikasikan jenis makalah yang akan disajikan kepada siswa
Harus dibedakan antara masalah yang disajikan dengan masalah yang ditemukan. Masalah yang disajikan berarti diberikan kepada siswa. Masalah yang ditemukan (discovery problems) berarti masalah itu sudah ada, tetapi harus ditemukan sendiri oleh siswa. Harus juga dibedakan antara metode pemecahan masalah yang diketahui dan yang tidak diketahui.
Dengan menggunakan skema klasifikasi, berpikir kreatif mulai dari masalah yang disajikan, tetapi metode penyelesaiannya tidak diketahui siswa. Setelah itu, dilanjutkan dengan ketentuan bahwa situasi masalah dan cara penyelesaiannya tidak diketahui oleh siswa dan orang lain. Siswa harus menciptakan situasi masalah dan meyelesaikan sendiri secara aktif.
Langkah ke-2 Mengembangkan dan menggunakan ketrampilan-ketrampilan pemecahan masalah
Kembangkan dan gunakan teknik-teknik dan ketrampilan-ketrampilan tertentu untuk memecahkan masalah secara kreatif. Teknik yang paling populer adalah brainstorming yang pada mulanya digunakan dalam dunia bisnis, tetapi sekarang digunakan dalam kelas, khususnya di tingkat akademi.
Setelah masalah disajikan, guru menugaskan siswa mengajukan sebanyak mungkin usul penyelesaian yang mereka pikirkan. Setelah gagasan-gagasan penyelesaian didaftar baru diadakan penilaian. Teknik itu merupakan bentuk asosiasi bebas yang sering kali digunakan dalam kelompok.
Sidney Parnes dan Arnold Meadow, telah melakukan studi ekstensif tentang penggunanan brainstorming untuk memecahkan masalah. Mereka menarik kesimpulan sebagai berikut.
1) Latihan dalam brainstorming meningkatkan pemecahan masalah kreatif.
2) Brainstorming menghasilkan banyak penyelesaian masalah dibandingkan dengan metode berbuat (do methods).
3) Gagasan-gagasan yang dihasilkan dengan brainstorming lebih baik daripada teknik-teknik konvensional.
4) Upaya yang diperluas menghasilkan gagasan-gagasan menuju ke penambahan jumlah gagasan dan proporsi gagasan-gagasan yang baik.
5) Para siswa yang mempelajari pemecahan masalah kreatif memperoleh nilai yang lebih tinggi dalam abilite kreatif dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti kursus.
Pengajaran ketrampilan-ketrampilan riset dasar tertentu merupakan teknik kedua bagi pemeliharaan/pembinaan kreativitas. Teknik itu konsisten dengan definisi tentang berpikir kreatif sebagai pembentukan dan pengujian hipotesis.
Ketrampilan pemecahan masalah lain yang dapat digunakan adalah membaca kreatif (creative reading). Para siswa dapat diajar membaca secara kreatif dengan arahan dan dorongan untuk melaksanakan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan.

Langkah ke-3 Ganjaran bagi prestasi beajar kreatif
Ada lima cara yang dapat digunakan/dilakukan oleh guru untuk mendorong dan memberikan ganjaran kepada siswa yang telah mencapai prestasi kreatif, yaitu sebagai berikut :
1) Perbaiki dengan bijaksana pertanyaan-pertanyaan siswa yang tidak lumrah.
2) Perbaiki dengan bijaksana gagasan-gagasan dan penyelesaiannya yang tidak tepat.
3) Tunjukkan kepada siswa bahwa gagasannya mempunyai nilai.
4) Sediakan kesempatan kepada siswa dan berikan penghargaan terhadap kegiatan belajar sendiri.
5) Sediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar berpikir dan menemukan tanpa mengabaikan penilaian secara langsung.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model pembelajaran kreatif produktif tidak terlepas dari kelemahan di samping kelebihan yang dimilikinya. Kelemahan tersebut terkait dengan kesiapan guru dan siswa untuk terlibat dalam model pembelajaran ini. Kendala lain adalah waktu.
Model pembelajaran ini memerlukan waktu yang relative cukup panjang dan fleksibel. Terlepas dari segala kelemahannya, model pembelajaran ini juga mempunyai banyak kelebihan seperti yang telah diuraikan di atas.
Jika kelemahannya dapat diminimalkan, maka kekuatan model ini akan membuahkan proses dan hasil belajar yang yang dapat memacu kreativitas sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, sangat diharapkan guru untuk dapat menerapkan model ini dan mengembangkan model ini sesuai dengan bidang studinya, bahkan mungkin dari model ini, guru dapat mengembangkan model lain yang lebih menjanjikan.

B. Saran
Kami selaku penyusun menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT. Bumi Aksara

http://phramz.wordpress.com/

http://kreatifproduktif-blog.blogspot.com/

Diunduh pada hari Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 09.56 WIB

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: