Hannypoeh's Blog

IKHLAS BHAKTI BINA BANGSA BERBUDI BAWA LAKSANA

Pengertian Akhlaq Mulia (Al-Akhlaq Al-Karimah)

Akhlaq adalah lafadz yang berasal dari bahasa Arab merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Berasal dari kata khalaq yang berarti menciptakan, yang seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq artinya yang diciptakan, dan kahlq artinya ciptaan.
Dari pengertian tersebut, memberi informasi bahwa akhlaq, selain merupakan tata aturan atau norma-norma perilaku tentang hubungan antara sesama manusia, juga merupakan norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan yang maha pencipta, bahkan hubungan dengan alam sekitarnya.
Adapaun akhlaq menurut beberapa ulama antara lain, menurut :
# Imam Al-Ghazali
“Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
# Ibrahim Anis
“Akhlaq adalah keadaan jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikir dan dipertimbangkan lebih dahul”.
Dari keempat pengertian di atas dapat dipahami bahwa akhlaq adalah merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang dapat menimbulkan gerakan, perbuatan, tingkah laku secara spontan, gampang atau mudah pada saat dibuthkan tanpa memerlukan pemikiran atau perimbangan terlebih dahulu dan tidak memerlukan dorongan dari luar.
Akhlaq adalah gambaran atau bayangan dari jiwa seseorang, mereka berbuat, bertindak, atau bertingkah laku berdasarkan apa yang tertanam dalam jiwanya dan telah menjadi kebiasaan setiap hari tanpa ada pengaruh atau dorongan dari pihak lain, mereka melakukan secara spontan tanpa pertimbangan pikiran sebelumnya.
Untuk melekatkan akhlaq yang mulia pada diri seseorang, harus terlebih dahulu dilakukan pembersihan diri dari hal-hal sebagai berikut :
1. Dosa dan kesalahan melalui taubat dan istighfar kepada Allah
2. Sifat-sifat yang tercela, yang melekat pada dirinya melalui latihan dan pembiasaan yang berkesinambungan
Sumber dan Ruang Lingkup Akhlaq
Yang dimaksud dengan sumber akhlaq adalah yang menjadi ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran Islam, sumber akhlaq adalah Al-Qur’an dan Sunnah, bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan moral.
Adapun ruang lingkup akhlaq menurut Abdullah Draz ada lima bagian yaitu :
• Akhlaq pribadi terdiri dari Yang diperintahkan, yang dilarang, yang dibolehkan dan Akhlaq dalam keadaan darurat
• Akhlaq berkeluarga terdiri dari Kewajiban timbal balik antara orang dengan anak, kewajiban sumai dengan istri dan kewajiban terhadap karib kerabat.
• Akhlaq bermasyarakat terdiri dari Yang dilarang yang iperintahkan dan Kaedah-kaedah adab.
• Akhlaq bernegara terdiri dari Hubungan antara pimpinan dan rakyat dan hubungan luar negeri.
• Akhlaq beragama yaitu kewajiban terhadap Allah SWT.
Berangkat dari sistematika di atas, sedikit modifikasi, maka penulis membagi pembahasan akhlaq menjadi :
• Akhlaq terhadap Allah SWT.
• Akhlaq terhadap Rasulullah SAW.
• Akhlaq pribadi
• Akhlaq dalam keluarga
• Akhlaq bermasyarakat dan
• Akhlaq bernegara
Kedudukan dan Keistimewaan Akhlaq dalam Kehidupan
Dalam keseluruhan ajaran Islam akhlaq menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting dalam kehidupan, seperti terlihat dalam beberapa poin berikut ini :
# Rasulullah SAW. Menempatkan penyempurnaan akhlaq, yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam, sebagai sabdanya :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. (HR. Baihaqi).
Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam, sehingga Rasulullah pernah mendefinisikan agam dengan akhlaq yang baik, sebagaimana sabda beliau.
Terjemahannya :
“Ya Rasulullah, apakah agama itu ? beliau menjawab : agama itu adalah akhlak yang baik”.
# Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat.
# Rasulullah SAW. Menjadikan baik buruknya akhlaw seseorang sebagau ukuran kualitasnya.
# Islam menjadikan akhlaw baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT.
# Nabi Muhammad SAW. Selalu berdoa agar Allah SWT. Membaikkan akhlaq beliau.
PERSOALAN AKHLAQ
Perbuatan Baik dan Buruk
Yang dimaksud perbuatan baik adalah :
• Sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan
• Sesuatu yang menimbulkan rasa keharusan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian dan seterusnya.
• Sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan, yang memberikan kepuasan
• Sesuatu dengan sesuai dengan keinginan yang bersifat berfitrah
• Sesuatu hal yang dikatakan baik, bila ia mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia.
Adapun yang dimaksud dengan perbuatan buruk adalah :
• Sesuatu yang tidak baik, tidak seperti seharusnya, tidak sempurna dalam kualitas, di bawah standart, kurang dalam nilai dan tidak mencukupi.
• Sesuatu yang keji, jahat, tidak bermoral dan tidak menyenangkan
• Adalah segala sesuatu yang tercela, karena melanggar norma-norma atau aturan-aturan menurut yang ditetapkan oleh syara’ (agama).
Ukuran Baik dan Buruk
Persepsi Manusia Tentang Baik dan Buruk
Banyak orang yang berselisih pendapat untuk menilai suatu perbuatan, ada yang melihatnya baik dan ada yang melihatnya buruk. Dpandang baik oleh suatu masyarakat atau bangsa dipandang buruk yang lain. Dipandang baik pada waktu ini dinilai buruk pada waktu yang lain.
Selanjutnya dalam menetapkan nilai perbuatan manusia, selain memperhatikan nilai yang mendasarinya, kriteria lain yang ha
rus diperhatikan adalah cara melakukan perbuatan itu. Meskipun seseorang mempunyai niat baik, tetapi lakukan dengan cara yang salah, dia dinilai tercela karena salah melakukannya, bukan tercela karena niatnya. Kadang-kadang tercelanya manusia itu dapat berpangkal dari keyakinan yang salah, bukan karena niatnya.
Dari uraian di muka tentang tingkah laku manusia dapat diketahui bahwa element-element pokok yang perlu diperhatikan padanya adalah :
• Kehendak (Karsa), yakni sesuatu yang mendorong yang ada di dalam jiwa manusia.
• Manifestasi dari kehendak, yaitu cara dalam merealisir kehendak tersebut. Barangkali hal ini dapat disamakan dengan ungkapan karya, yakni perbuatan dalam mewujudkan karsa tadi. Kalau karsa dan karya menjadi satu, maka bisa dipastikan adanya aktivitas yang tidak kecil artinya.
Selanjutnya untuk menialai baik buruknya niat dan cara seseorang dalam melakukan perbuatannya haruslah berdasarkan ajaran Islam sebagaimana firman Allah SWT. Dalam QS. An-Nisa (4) :
Terjemahannya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan oramg-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan perndapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebi utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya”.
MACAM-MACAM AKHLAK
# Akhlak Terpuji
Akhlak Terpuji (al-mahmudah) atau akhlak al-karimah artinya sikap dan sifat yang mulia atau terpuji, yang terkadang disebut dengan budi pekerti yang luhur.
Akhlak mulia suatu sikap atau sifat yang terpuji yang pantas melekat pada diri setiap Muslim, sehingga menjadi orang yang berbudi baik atau luhur dan memiliki karakter yang baik pula.
Indikator dalam akhlak mulia terbagi menjadi berbagai macam diantaranya adalah :
Indikator akhlak mulia adalah sebagai berikut :
• Shiddiq (benar atau jujur)
• Al-manah (menyampaikan atau terbuka)
• Tabligh (menyampaikan atau terbuka)
• Fathana (cerdas dan cakap)
• Istiqamah (teguh pendirian)
• Ikhlas berbuat atau beramal
• Syukur (menerima baik)
• Sabar (teguh)
• Iffah (perwira)
• Tawadhu’, adalah sikap sabar yang tertanam dalam jiwa untuk dapat mengendalikan hawa nafsu.
• Syaja’ (berani)
• Hikmah (bijaksana)
• Tasamuh (toleransi)
• Lapang dada
• Adil
• Qana’ah
• Intiqad atau mawas diri
• Al-Afwu atau pemaaf
• Anisatun atau bermuka manis
• Khusyu’ atau tenang dala beribadah
• Wara’, adalah sikap batin yang tertanam dalam jiwa yang selalu menjaga dan waspada dari segala bentuk perbuatan yang mungkin mendatangkan dosa, baik itu dosa kecil atau dosa besar.
• Belas kasihan
• Beriman kepada Allah
• Ta’awun atau tolong menolong
• Tadarru atau merendah
• Shalihah (shaleh)
• Sakhaa’ (pemurah)
• Nadhief (bersih)
• Ihsan
• Malu (haya)
• Uswatun hasanah (teladan yang baik)
• Hifdu Al-Lisan (menjaga ibadah)
• Hub al-wathan (cinta tanah air)
Akhlak yang tercela
Akhlak tercela adalah semua sifat dan tingkah laku yang berbeda atau berlawanan, bahkan bertentangan dengan sifat-sifat yang telah disebutkan pada bagian terdahulu (akhlak mulia) tersebut di atas.
Jenis akhlak yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :
• Dusta (bohong)
• Khiyanat (menyia-nyiakan kepercayaan)
• Hasad (dengki)
• Iri hati
• Al-Riya (puji diri)
• Takabbur (sombong)
• Al-Tabdzir (boros)
• Al-Bukhlu (kikir)
• Bakhil (kikir)
• Al-Dzulmu (aniaya)
• Ceroboh
• Ananiyah
• Al-Baghyu
• Al-Buhtaan (bohong)
• Ingkar janji
• Al-Kamru
• Al-Jubnu (pengecut)
• Al-Fawahisy (dosa yang besar)
• Saksi palsu
• Fitnah
• Al-Israf (hidup berlebih-lebihan)
• Al-Liwathah (hubungan seksual tidak normal)
• Al-namimah (adu domba)
• Al-khufran (kekufuran)
• Qatlun Nafs (menghilangkan jiwa)
• Al-Riba (pemakan riba)
• Al-sikhriyah (berolok-olok)
• Tanabazu bil al-qad (memberi gelaran yang tidak benar atau berlebihan)
• Al-Syakhwat (mengikuti hawa nafsu)
• Dan lain-lain sifat tercela
Dari berbagai kesimpulan di atas kami menarik kesimpulan bahwa akhlak adalah sesuatu sifat yang harus dijaga dan dipelihara, karena merupakan kunci sukses untuk hidup. akhak ialah bunga diri, indah dipandang mata, nikmat dirasa oleh hati dan memberi manfaat. Intinya adalah mencapai keridhaan Allah SWT.

Tinggalkan komentar »

STRATEGI PEMBELAJARAN KREATIF PRODUKTIF

MAKALAH
STRATEGI PEMBELAJARAN KREATIF PRODUKTIF
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran

DOSEN PEMBIMBING :
M. Mukhtar Saefudin, M.Ag

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK V
1. HANIFAH GANDA UTAMI
2. SITI NUR ROHMAH
3. SUBIYAN HANDOKO

S1 PGMI / IV A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDATUL ULAMA
( STAINU ) KEBUMEN
TAHUN AKADEMIK 2010 / 2011

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr .wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Pembelajaran yang kami beri judul “Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif“.
Dalam penulisan karya tulis ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Mukhtar Saefudin, M.Ag selaku pembimbing mata kuliah Perencanaan Pembelajaran.
2. Kedua orang tua kami yang telah memberi motivasi kepada kami.
3. Teman-teman kami yang telah memberi semangat.
4. Serta semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini.
Tidak ada yang dapat kami perbuat untuk membalas budi semua pihak kecuali mendoakan semoga amal baik yang telah diberikan kepada kami termasuk amal shaleh yang diterima di sisi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan kami. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Kebumen, Maret 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
A. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
B. Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
BAB II PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
A. Pengertian Pembelajaran Kreatif Produktif. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
B. Prosedur Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif . . . . . . . . . . . . .
C. Kaitan Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif dengan Pembelajaran Individu. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
D. Prosedur Mengembangkan Kreativitas. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
E. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
F. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Belajar bukan hanya sekedar tahu, menguasai ilmu dan menghafal semua teori yang dihasilkan orang lain, tetapi belajar merupakan proses berpikir. Namun pada kenyataannya dalam pembelajaran seorang guru masih menggunakan metode yang monoton dan kurang sesuai dengan materi yang diajarkan dan karakteristik siswa.
Dengan pembelajaran yang demikian akan sangat membosankan bagi siswa sehingga motivasi belajar siswa akan menjadi semakin rendah. Akibat yang lebih jauh adalah siswa akan malas untuk belajar dan kemampuan siswa tidak akan tergali secara maksimal. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kemampuan siswa yaitu dengan pembelajaran kreatif produktif sehingga diharapkan belajar akan mudah dan menyenangkan bagi setiap siswa.
Melihat dari masalah itu kami dari penulis mencoba untuk membahas tentang strategi pembelajaran kreatif produktif. Tidak terlepas dari hal ini semoga makalah ini bisa membantu kesulitan teman-teman dalam memahami tentang strategi pembelajaran kreatif produktif.

B. RUMUSAN MASALAH
1) Apakah yang dimaksud dengan strategi pembelajaran kreatif produktif?
2) Bagaimanakah prosedur pelaksanaan stretegi pembelajaran kretif produktif?
3) Bagaimana kaitan strategi pembelajaran kreatif produktif dalam pembelajaran individual?
4) Bagaimanakah prosedur mengembangkan kreativitas ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif
Model pembelajaran kreatif produktif khusus dirancang untuk pembelajaran apresiasi sastra, namun pada perkembangannya terjadi berbagai modifikasi sehingga model ini dapat di gunakan untuk pembelajaran baik di jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun pada jenjang pendidikan tinggi.
Strategi pembelajaran kreatif produktif adalah strategi dari model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
Pembelajaran ini berpijak kepada teori konstruktivistik dimana belajar adalah usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya, dengan demikian dalam pembelajaran ini para siswa diharapkan dapat mengkonstruksi sendiri konsep atau materi yang mereka dapatkan. Pendekatan pembelajaran kreatif produktif antara lain : belajar aktif, kreatif, konstruktif serta kolaboratif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.
Pembelajaran kreatif produktif diawali dengan adanya sifat aktif si belajar. Aktif dapat diartikan sebagai keterlibatan si belajar secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran untuk mengkonstruksi pengetahuannya.
Otak lebih mengingat hal-hal yang dapat kita lakukan, bukan yang kita tidak dapat lakukan, dan penggunaan yang biasa, bukan yang tidak biasa. Kita dapat mengenali banyak hal tanpa harus berpikir. Berpikir kreatif menuntut kita untuk melepaskan diri dari pola biasa yang telah disimpan otak.
Untuk dapat membantu anak melepaskan diri dari pola-pola biasa, diperlukan sikap positif berupa pemikiran bebas atau berfantasi dan pengambilan resiko. Langrehr (2006) mengemukakan lima aspek sikap yang baik untuk berpikir kreatif dengan menggunakan akronim FIRST (fantasy, incubate, risk take, sensitivity, titillate).
Pemikir kreatif berani mengambil resiko demi mengharapkan sesuatu yang unik dan berguna. Pembelajaran kreatif dan produktif merupakan model yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.Pendekatan tersebut antara lain: belajar kreatif, aktif, konstrutifistik, dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut, di integrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan si belajar mengembangkan kreatifitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.
Pembelajaran kreatif produktif ini berlandaskan pada prinsip-prinsip dasar :
1. Keterlibatan siswa secara intelektual dan emosional dalam pembelajaran.
2. Siswa didorong untuk menemukan / mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara seperti observasi,diskusi atau percobaan.
3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama.
4. Untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias serta percaya diri.
Dengan mengacu pada karakteristik tersebut, model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran berbagai bidang studi, baik topik-topik yang bersifat abstrak maupun yang bersifat konkret. Materi yang sesuai dengan model pembelajaran tersebut merupakan materi yang menuntut pemahaman yang tinggi terhadap nilai, konsep atau masalah actual di masyarakat serta ketrampilan menerapkan pemahaman tersebut dalam bentuk karya nyata. Materi ini dapat berasal dari berbagai bidang studi, seperti apresiasi sastra dari bidang studi bahasa Indonesia, masalah ekonomi dari IPS, masalah polusi dari IPA dan lain sebagainya.
Pembelajaran ini bertujuan untuk :
1. Memahamkan konsep terhadap suatu nilai, konsep atau masalah tertentu.
2. Mampu menerapkan konsep / memecahkan masalah.
3. Mampu mengkreasikan sesuatu berdasarkan pemahaman tersebut.
Beberapa karakteristik dalam pembelajaran kreatif produktif adalah sebagai berikut :
1. Keterlibatan mahasiswa secara intelektual dan intraksional. Keterlibatan ini di fasilitasi melalui pemberian kesempatan kepada si belajar untuk melakukan eksplorasi dari konsep di bidang ilmu yang sedang dikaji serta menafsirkan hasil eksplorasi tersebut.
2. Si belajar didorong untuk menemukan atau mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara, seperti observasi, diskusi dan percobaan.
3. Si belajar diberi kesempatan untuk bertanggungjawab menyelesaikan tugas bersama.
4. Pada dasarnya untuk menjadi kreatif, seseorang harus bekerja keras, berdedikasi tinggi, antusias serta percaya diri.
B. Prosedur Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif
Materi yang disajikan dengan model pembelajaran kreatif produktif ini merupakan materi yang menuntut pemahaman yang tinggi terhadap nilai, konsep, atau masalah actual di masyarakat serta ketrampilan menerapkan pemahaman tersebut dalam bentuk karya nyata.
Kegiatan pembelajaran ini dibagi menjadi 4 langkah yaitu:
1. Orientasi
Kegiatan pembelajaran diawali dengan orientasi untuk mengkomunikasikan dan menyepakati tugas dan langkah pembelajaran. Guru mengemukakan tujuan, materi, waktu, langkah, hasil akhir yang diharapkan dari siswa serta penilaian yang diterapkan. Siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya. Dengan negosiasi tersebut diharapkan akan terjadi kesepakatan antara guru dan siswa.
2. Eksplorasi
Pada tahap ini, peserta didik melakukan eksplorasi terhadap masalah / konsep yang akan dikaji. Eksplorasi dapat dilakukan dengan membaca, melakukan observasi, wawancara, menonton satu pertunjukan, melakukan percobaan, browsing lewat internet dsb. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan secara individu maupun kelompok. Agar eksplorasi menjadi terarah, sebaiknya guru memberikan panduan singkat yang memuat tujuan, materi, waktu, cara kerja, serta hasil akhir yang diharapkan.
3. Interpretasi
Dalam tahap interpretasi, hasil eksplorasi diinterpretasikan melalui kegiatan analisis, diskusi, tanya jawab, atau bahkan berupa percobaan kembali , jika memang diperlukan.
4. Re-kreasi
Pada tahap re-kreasi, siswa ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang mencerminkan pengalamannnya terhadap konsep / topic / masalah yang sedang dikaji menurut kreasinya masing-masing. Misalnya siswa dapat diminta membuat satu scenario drama dari novel yang sedang dikajinya. Rekreasi dapat dilakukan secara individu ataupun kelompok. Hasil re-kreasi merupakan produk kreatif yang dapat dipresentasikan, dipajang atau ditindak lanjuti.
5. Evaluasi
Pembelajaran kreatif produktif dapat dievaluasi pada saat proses pembelajarannya dan pada akhir pembelajarannya. Selama proses pembelajaran, evaluasi dapat dilakukan dengan mengamati sikap dan kemampuan berfikir si belajar kesungguhan mengerjakan tugas hasil eksplorasi, kemampuan berpikir kritis dan logis dalam memberikan pandangan. Evaluasi pada akhir pembelajaran dapat dilakukan dengan mengevaluasi produk kreatif yang dihasilkan si belajar dengan kriteria penilaian dapat disepakati bersama pada waktu orientasi.
Kelemahan pembelajaran kreatif produktif
Beberapa kelemahan yang terkait dengan pembelajaran kreatif produktif ini antara lain:
a) ketidaksiapan si belajar dengan guru dalam proses pembelajaran ini.
Ketidaksiapan mahasiswa membuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat di eksplorasi dan diskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan.
b) Model pembelajaran ini memelukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel.

C. Kaitan Strategi Pembelajaran Kreatif Produktif dengan Pembelajaran Individu
Untuk membentuk karakter kreatif dan produktif menuju terciptanya kemandiriannya bagi siswa, maka dikembangkan siklus belajar yang meliputi lima aspek pengalaman belajar sebagai berikut :
1. Exploring
Merespon informasi baru, mengeksplorasi fakta-fakta dengan petunjuk sederhana, melakukan sharing pengetahuan dengan orang lain atau mengambil informasi dari guru atau sumber-sumber yang lain.
2. Planning
Menyusun rencana kerja, mengidentifikasi alat dan bahan yang diperlukan, menentukan langkah-langkah, desain karya dan rencana lainnya.
3. Doing / acting
Melakukan percobaan, pengamatan, menemukan, membuat karya dan melaporkan hasilnya serta menyelesaikan masalah.
4. Communicating
Mengkomunikasikan / mempresentasikan hasil percobaan, pengamatan, penemuan, atau hasil karyanya, sharing dan diskusi
5. Reflecting
Mengevaluasi proses dan hasil yang telah dicapai, mencari kelemahannya guna meningkatkan efektivitas perencanaan.

Pembelajaran Individual adalah pembelajaran yang bersifat klasikal yang memperhatikan potensi- potensi setiap individu agar berkembang dengan baik. Penggunaan strategi pembelajaran ini dalam pembelajaran individual diharapkan potensi setiap individu akan berkembang yakni membentuk kemampuan berpikir kritis dan kreatif, bertanggung jawab serta bekerja sama. Sehingga hasil dari pembelajaran ini tidak hanya segi kognitif, tetapi segi afektif dan psikomotorik juga akan tercapai, bahkan kecerdasan akan lebih terlihat dari setiap siswa.
D. Prosedur Mengembangkan Kreativitas
Para siswa dibimbing agar memiliki kemampuan kreativitas, mampu berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah. Karena itu, melalui proses belajar tertentu, diupayakan tercapainya tujuan-tujuan tersebut. Guru perlu menyediakan kondisi-kondisi belajar yang memungkinkan terjadinya penambahan aspek keluwesan, keaslian, dan kuantitas dari abilite kerativitas yang dimiliki oleh para siswa.
Langkah ke-1 Mengklasifikasikan jenis makalah yang akan disajikan kepada siswa
Harus dibedakan antara masalah yang disajikan dengan masalah yang ditemukan. Masalah yang disajikan berarti diberikan kepada siswa. Masalah yang ditemukan (discovery problems) berarti masalah itu sudah ada, tetapi harus ditemukan sendiri oleh siswa. Harus juga dibedakan antara metode pemecahan masalah yang diketahui dan yang tidak diketahui.
Dengan menggunakan skema klasifikasi, berpikir kreatif mulai dari masalah yang disajikan, tetapi metode penyelesaiannya tidak diketahui siswa. Setelah itu, dilanjutkan dengan ketentuan bahwa situasi masalah dan cara penyelesaiannya tidak diketahui oleh siswa dan orang lain. Siswa harus menciptakan situasi masalah dan meyelesaikan sendiri secara aktif.
Langkah ke-2 Mengembangkan dan menggunakan ketrampilan-ketrampilan pemecahan masalah
Kembangkan dan gunakan teknik-teknik dan ketrampilan-ketrampilan tertentu untuk memecahkan masalah secara kreatif. Teknik yang paling populer adalah brainstorming yang pada mulanya digunakan dalam dunia bisnis, tetapi sekarang digunakan dalam kelas, khususnya di tingkat akademi.
Setelah masalah disajikan, guru menugaskan siswa mengajukan sebanyak mungkin usul penyelesaian yang mereka pikirkan. Setelah gagasan-gagasan penyelesaian didaftar baru diadakan penilaian. Teknik itu merupakan bentuk asosiasi bebas yang sering kali digunakan dalam kelompok.
Sidney Parnes dan Arnold Meadow, telah melakukan studi ekstensif tentang penggunanan brainstorming untuk memecahkan masalah. Mereka menarik kesimpulan sebagai berikut.
1) Latihan dalam brainstorming meningkatkan pemecahan masalah kreatif.
2) Brainstorming menghasilkan banyak penyelesaian masalah dibandingkan dengan metode berbuat (do methods).
3) Gagasan-gagasan yang dihasilkan dengan brainstorming lebih baik daripada teknik-teknik konvensional.
4) Upaya yang diperluas menghasilkan gagasan-gagasan menuju ke penambahan jumlah gagasan dan proporsi gagasan-gagasan yang baik.
5) Para siswa yang mempelajari pemecahan masalah kreatif memperoleh nilai yang lebih tinggi dalam abilite kreatif dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti kursus.
Pengajaran ketrampilan-ketrampilan riset dasar tertentu merupakan teknik kedua bagi pemeliharaan/pembinaan kreativitas. Teknik itu konsisten dengan definisi tentang berpikir kreatif sebagai pembentukan dan pengujian hipotesis.
Ketrampilan pemecahan masalah lain yang dapat digunakan adalah membaca kreatif (creative reading). Para siswa dapat diajar membaca secara kreatif dengan arahan dan dorongan untuk melaksanakan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan.

Langkah ke-3 Ganjaran bagi prestasi beajar kreatif
Ada lima cara yang dapat digunakan/dilakukan oleh guru untuk mendorong dan memberikan ganjaran kepada siswa yang telah mencapai prestasi kreatif, yaitu sebagai berikut :
1) Perbaiki dengan bijaksana pertanyaan-pertanyaan siswa yang tidak lumrah.
2) Perbaiki dengan bijaksana gagasan-gagasan dan penyelesaiannya yang tidak tepat.
3) Tunjukkan kepada siswa bahwa gagasannya mempunyai nilai.
4) Sediakan kesempatan kepada siswa dan berikan penghargaan terhadap kegiatan belajar sendiri.
5) Sediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar berpikir dan menemukan tanpa mengabaikan penilaian secara langsung.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model pembelajaran kreatif produktif tidak terlepas dari kelemahan di samping kelebihan yang dimilikinya. Kelemahan tersebut terkait dengan kesiapan guru dan siswa untuk terlibat dalam model pembelajaran ini. Kendala lain adalah waktu.
Model pembelajaran ini memerlukan waktu yang relative cukup panjang dan fleksibel. Terlepas dari segala kelemahannya, model pembelajaran ini juga mempunyai banyak kelebihan seperti yang telah diuraikan di atas.
Jika kelemahannya dapat diminimalkan, maka kekuatan model ini akan membuahkan proses dan hasil belajar yang yang dapat memacu kreativitas sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, sangat diharapkan guru untuk dapat menerapkan model ini dan mengembangkan model ini sesuai dengan bidang studinya, bahkan mungkin dari model ini, guru dapat mengembangkan model lain yang lebih menjanjikan.

B. Saran
Kami selaku penyusun menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT. Bumi Aksara
http://phramz.wordpress.com/
http://kreatifproduktif-blog.blogspot.com/

Diunduh pada hari Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 09.56 WIB

Tinggalkan komentar »

LUAS DAN VOLUME KUBUS, BALOK, PRISMA, DAN TABUNG

KONSEP PEMBELAJARAN LUAS DAN VOLUME KUBUS, BALOK, PRISMA, DAN TABUNG

“Makalah ini kami susun guna melengkapi tugas kelompok
mata kuliah Pembelajaan Matematika di MI”

Dosen Pembimbing Drs. Triyono, M.Pd

Disusun Oleh :
Kelompok III
1. Hanifah Ganda Utami (10.209160)
2. Islahyatul Mahmudah (10.209162)
3. Nur Hidayah (10.209166)

PGMI IV-A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
( STAINU ) KEBUMEN
TAHUN AKADEMIK 2010-2011

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr .wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Matematika di MI yang kami beri judul “ Konsep Pembelajaran Luas dan Volume Kubus, Balok, Prisma, dan Tabung ”.
Dalam penulisan karya tulis ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Yriyono, M.Pd selaku pembimbing mata kuliah Pembelajaran Matematika di MI.
2. Kedua orang tua kami yang telah memberi motivasi kepada kami.
3. Teman-teman kami yang telah memberi semangat.
4. Serta semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini.
Tidak ada yang dapat kami perbuat untuk membalas budi semua pihak kecuali mendoakan semoga amal baik yang telah diberikan kepada kami termasuk amal shaleh yang diterima di sisi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan kami. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Kebumen, Juni 2011

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
A. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
B. Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
BAB II PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
A. Luas Daerah Permukaan Kubus . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
B. Luas Daerah Permukaan Balok . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
C. Luas Daerah Permukaan Prisma . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
D. Luas Daerah Permukaan Tabung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
E. Volume Balok . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
F. Volume Kubus . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
G. Volume Prisma . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
H. Volume Tabung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
A. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
B. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam melengkapi pembelajaran pemahaman bangun-bangun ruang, tentu saja kita dapat mempersoalkan pembelajaran tentang luas permukaan dan volumenya. Pendalaman dan perluasan pemahaman konsep-konsep bangun ruang akan menjadi bekal utama bagi kita dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di SD / MI , maupun dalam mempelajari materi matematika lanjutan lainnya.
Beberapa kompetensi khusus yang diperlukan antara lain:
Menjelaskan konsep luas bangun ruang dengan menggunakan media yang sesuai,
Menjelaskan konsep volume bangun ruang dengan menggunakan media yang sesuai,
Menggunakan konsep luas atau volume bangun ruang untuk menyelesaikan masalah dalam matematika atau masalah kehidupan sehari-hari.
Melihat dari masalah itu kami dari penulis mencoba untuk membahas tentang Konsep Pembelajaran Luas dan Volume Kubus, Balok, Prisma, dan Tabung. Tidak terlepas dari hal ini semoga makalah ini bisa membantu kesulitan teman-teman dalam memahami tentang Luas dan Volume Bangun Ruang.
Rumusan masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dalam makalah ini akan membahas mengenai beberapa masalah, antara lain:
Bagaimana luas daerah permukaan kubus ?
Bagaimana luas daerah permukaan balok ?
Bagaimana luas daerah permukaan prisma ?
Bagaimana luas daerah permukaan tabung ?
Bagaimana volume balok ?
Bagaimana volume kubus ?
Bagaimana volume prisma ?
Bagaimana volume tabung ?

BAB II
PEMBAHASAN
Luas Daerah Permukaan Kubus
KONSEP PEMBELAJARAN

* Benda konkret seperti : dadu, rubik, tempat kapur dll.
* Semi konkret berupa gambar kubus.
* Abstrak berupa sifat atau karakteristik khusus dari kubus: memiliki 6 sisi berupa bujursangkar / persegi yang kongruen ( sama & sebangun ).
MEDIA BERBENTUK KUBUS

Luas tiap daerah sisinya = Luas daerah persegi yang rusuknya a cm, yaitu:
L = a cm x a cm = a² cm²
Luas daerah seluruh bidang sisi kubus=Luas daerah permukaan kubus = 6 x a² cm²= 6 a² cm²

Luas daerah permukaan kubus = luas daerah seluruh bidang sisi kubus = 6 kali kuadrat yang menyatakan ukuran panjang rusuknya.
Luas Daerah Permukaan Balok

Jumlah luas daerah bidang alas & bidang atas = 2 pl cm²
Jumlah luas daerah semua sisi tegak = ( 2pt + 2lt ) cm²
Luas daerah permukaan balok = Luas daerah seluruh bidang sisi balok = (2 pl +2 pt +2 lt) cm²

Luas daerah permukaan balok = Luas daerah bidang-bidang sisi balok = 2 kali jumlah hasil kali sepasang-sepasang rusuk utamanya yang berlainan.
Luas Daerah Permukaan Prisma

Misal : Prisma segitiga ABC.EFD
Jika diiris menurut rusuk-rusuk FC, DF, EF, AC dan BC maka didapat jaring-jaring ;

Kesimpulan :
Contoh:
Hitunglah luas permukaan prisma segitiga dengan alas berbentuk segitiga siku-siku berukuran 3 cm, 4 cm, 5 cm dan tinggi prisma 10 cm !
Jawab:
Sisi alas; a = 3 cm ; t = 4 cm
Luas alas = ½ (a x t) = ½ (3 cm x 4 cm) = ½ x 12 cm2 = 6 cm2
Keliling alas = 3 cm + 4 cm + 5 cm = 12 cm
Luas permukaan prisma = ( 2 x luas alas ) + ( keliling alas x tinggi )
= (2 x 6 cm2 ) + ( 12 cm x 10 cm )
= 12 cm2 + 120 cm2
= 132 cm2
Jadi luas permukaan prisma tersebut 132 cm2.

Luas Daerah Permukaan Tabung (SILINDER)

Luas daerah lingkaran atas = π r² ; Luas daerah lingkaran alas = π r²
Luas daerah persegi panjang = 2 π r t
* Jadi, luas daerah permukaan tabung :
L = luas bidang alas + luas bidang atas + luas bidang lengkung tabung
= π r² + π r² + 2 π r t

Volume Balok

Volume balok sama dengan hasil kali perkalian dari bilangan-bilangan yang menyatakan panjang, lebar, dan tinggi dari balok tersebut.
Volume Kubus

Volume kubus sama dengan pangkat tiga dari bilangan yang menyatakan rusuknya.
Volume Prisma

V balok = p x l x t
= L x t ( L= Luas alas )
Luas alas balok = luas alas prisma = L

Volume Tabung

(a) (b) (c)
Karena alas tabung berbentuk lingkaran & rumus luas lingkaran untuk jari-jari r adalah π r², maka:

π = 3, 14 atau 22/7

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam menyampaikan konsep luas dan volume pada bangun ruang, sebaiknya dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:
Tahap pengenalan konsep melalui benda-benda konkret berbentuk bangun ruang.
Tahap pengenalan konsep secara semi konkret melalui gambar bangun ruang.
Tahap pengenalan konsep secara abstrak melalui sifat-sifat / karakteristik khusus bangun ruang.
Luas daerah permukaan suatu bangun ruang adalah luas daerah bidang-bidang sisi bangun ruang tersebut.
Luas permukaan kubus = 6a²
Luas permukaan balok = 2 ( pl + pt + lt )
Luas permukaan prisma = (2 x L alas ) + ( K alas x t )
Luas permukaan tabung = 2 π r (r + t)
Volume adalah suatu ungkapan yang menyatakan “besarnya” suatu bangun ruang. Besarnya suatu bangun ruang dapat diungkapkan bila ada bangun ruang yang lebih kecil yang dijadikan patokan yang disebut satuan volume (volume satuan). Dengan patokan berupa satuan volume (biasanya 1 cm³) dikembangkan aturan (rumus) untuk volume bangun-bangun ruang:
Volume balok = p x l x t ( p = panjang, l = lebar, dan t = tinggi)
V kubus = a³ ( a = rusuk kubus )
V prisma = L x t ( L = Luas alas dan t = tinggi )
V tabung = π r² t ( r = jari-jari lingkaran alas / atas, t = tinggi, π = 3, 14 atau 22/7 ).
Saran
Kami selaku penyusun menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.edukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Pokok/viw&id=326&uniq=all
http://www.kubusdanbalok.blogspot.com/
http://klikbelajar.com/pelajaran-sekolah/pelajaran-matematika/belajar-matematika-dasar-pengertian-tentang-volume-dari-suatu-bangun-ruang/
http://ridho2009.wordpress.com/2009/04/24/rumus-tentang-tabung-balok-prisma-dan-segitiga/
http://id.wikibooks.org/wiki/Subjek:Matematika/Materi:Volume_bangun_ruang
http://id.wikipedia.org/wiki/Volume
Diunduh pada hari Sabtu, 11 Juni 2011

Tinggalkan komentar »

BILANGAN BULAT DI SD / MI SERTA RAGAM PERMASALAHANNYA

PEMBELAJARAN MATERI BILANGAN BULAT DI SD / MI SERTA RAGAM PERMASALAHANNYA
“Makalah ini kami susun guna melengkapi tugas kelompok
mata kuliah Pembelajaan Matematika di MI”

Dosen Pembimbing Drs. Triyono, M.Pd

Disusun Oleh :
Kelompok III
1. Hanifah Ganda Utami (10.209160)
2. Islahyatul Mahmudah (10.209162)
3. Nur Hidayah (10.209166)

KELAS : PGMI IV-A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
( STAINU ) KEBUMEN
TAHUN AKADEMIK 2010-2011

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr .wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Matematika di MI yang kami beri judul “ Pembelajaran Materi Bilangan Bulat di SD / MI serta Ragam Permasalahannya ”.
Dalam penulisan karya tulis ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Yriyono, M.Pd selaku pembimbing mata kuliah Pembelajaran Matematika di MI.
2. Kedua orang tua kami yang telah memberi motivasi kepada kami.
3. Teman-teman kami yang telah memberi semangat.
4. Serta semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini.
Tidak ada yang dapat kami perbuat untuk membalas budi semua pihak kecuali mendoakan semoga amal baik yang telah diberikan kepada kami termasuk amal shaleh yang diterima di sisi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan kami. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Kebumen, Mei 2011

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
A. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
B. Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
BAB II PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
A. Pengertian Bilangan Bulat. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
B. Pembelajaran Bilangan Bulat. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
C. Ragam Permasalahan dalam Pembelajaran Bilangan Bulat di SD / MI. . . . . . . 4
BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
A. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
B. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa sebagai bekal mempelajari matematika salah satunya adalah kemampuan berhitung. Kemampuan berhitung siswa perlu dipupuk dan dilatih dengan berbagai teknik agar tertanam dalam pola berpikir anak sehingga nantinya dalam mempelajari matematika tak ada kendala dalam hal kemampuan berhitung.
Setelah siswa menyelesaikan studi di tingkat SD/MI kemampuan berhitung yang harus telah dikuasai adalah meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, perpangkatan, dan penarikan akar. Kemampuan berhitung itu harus dikuasai anak untuk diterapkan pada himpunan bilangan asli, cacah, bulat, dan pecahan.
Salah satu kemampuan berhitung yang kurang dikuasai dengan baik oleh siswa adalah penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat (negatif dan positif). Hal ini biasanya dikarenakan pada saat pembelajaran siswa masih dalam tahap berpikir konkret sementara kebanyakan pembelajaran di kelas tidak didukung oleh media pembelajaran yang memadai. Bagi anak-anak yang “biasa” tentunya akan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memahami materi ini.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kami mencoba menyajikan sebuah media pembelajaran matematika yang kami maksudkan untuk membantu siswa yang merasa kurang atau belum menguasai kemampuan berhitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat tersebut secara interaktif. Sehingga siswa dapat belajar secara mandiri untuk berusaha menguasai kemampuan berhitung tersebut.
Melihat dari masalah itu kami dari penulis mencoba untuk membahas tentang Pembelajaran Materi Bilangan Bulat di SD / MI serta Ragam Permasalahannya. Tidak terlepas dari hal ini semoga makalah ini bisa membantu kesulitan teman-teman dalam memahami tentang Bilangan Bulat.
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dalam makalah ini akan membahas mengenai beberapa masalah, antara lain:
1. Apa pengertian bilangan bulat ?
2. Bagaimana pembelajaran bilangan bulat di SD / MI ?
3. Apa sajakah ragam permasalahan dalam pembelajaran bilangan bulat di SD / MI ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bilangan Bulat

Bilangan bulat merupakan perluasan dari bilangan cacah. Bilangan bulat terdiri dari:
1) Bilangan-bilangan yang bertanda negatif ( -1, -2, -3, -4, . . . ) yang selanjutnya disebut bilangan bulat negatif.
2) Bilangan 0 (nol), dan
3) Bilangan-bilangan yang bertanda positif ( 1, 2, 3, 4, . . . ) yang selanjutnya disebut bilangan bulat positif.
Contoh :
bentuk 6 + … = 4 dapat ditulis sebagai 4 – 6 =…
6
4
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5
Anak panah Ujung anak panah

Pangkal anak panah
Keterangan:
• Mula-mula dari skala 0 kita melangkah maju sebanyak 4 langkah sampai berhenti di skala 4.
• Kemudian dari skala 4 tersebut kita melangkah mundur sebanyak 6 langkah sampai berhenti di skala -2 dengan ujung panah tetap mengarah ke bilangan positif.
• Jadi bilangan -2 inilah yang merupakan bentuk pelengkap dari kalimat 6 + … = 4, yaitu: 6 + (-2) = 4 atau 4 – 6 = -2.

B. Pembelajaran Bilangan Bulat
Untuk menyampaikan pengertian bilangan bulat, sebaiknya diawali dengan penyampaian kasus-kasus dalam operasi hitung pada bilangan asli, agar anak dapat mengerti mengapa harus ada bilangan bulat.
Dalam menyampaikan konsep operasi hitung / bilangan bulat, sebaiknya dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:
• Tahap Pertama: tahap pengenalan konsep secara konkret.
• Tahap Kedua : tahap pengenalan konsep secara semi konkret atau semi abstrak.
• Tahap Ketiga : tahap pengenalan konsep secara abstrak.
Pada pengenalan konsep secara konkret sebaiknya diperkenalkan melalui alat peraga, seperti:
 Manik-manik (pendekatan himpunan)
 Tangga Garis Bilangan, Pita Garis Bilangan, Balok Garis Bilangan ( pendekatan hukum kekekalan panjang) dan,
 ataupun alat peraga lain selama prinsip kerjanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Contoh Pita Garis Bilangan
Pada tahap pengenalan konsep secara semi konkret atau semi abstrak dapat menggunakan Garis Bilangan. Sedangkan pada tahap pengenalan konsep secara abstrak dapat dilakukan dengan memberikan contoh-contoh soal yang berpola atau mempunyai keistimewaan-keistimewaan.
Pada penjumlahan bilangan bulat berlaku sifat-sifat:
a. Tertutup
b. Komutatif (pertukaran)
c. Asosiatif (pengelompokkan)
d. Adanya unsur identitas penjumlahan ( bilangan 0 )
e. Adanya unsur invers penjumlahan (lawan suatu bilangan)
Sedangkan pada pengurangannya, hanya berlaku sifat yang pertama yaitu sifat tertutup.
Untuk menghindarkan salah penafsiran hendaknya dibedakan bentuk penulisan tanda (–) sebagai operasi hitung dan sebagai jenis bilangan.

C. Ragam Permasalahan dalam Pembelajaran Bilangan Bulat di SD / MI
Masih cukup banyak ragam permasalahan dalam pembelajaran bilangan bulat, seperti:
a) Penggunaan alat peraga atau garis bilangan yang menyimpang dari prinsip kerjanya.
b) Salah penafsiran bentuk a + (-b) sebagai a – b atau a – (-b) sebagai a + b.
c) Masih banyak para guru dan siswa yang tidak dapat membedakan antara tanda +/- sebagai operasi hitung dengan tanda +/- sebagai jenis suatu bilangan.
d) Kurang tepatnya memberikan pengertian bilangan bulat.
e) Sulitnya memberikan penjelasan bagaimana melakukan operasi hitung pada bilangan bulat secara konkret maupun secara abstrak (tanpa menggunakan alat bantu) .

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bilangan bulat merupakan perluasan dari bilangan cacah. Bilangan bulat terdiri dari:
1) Bilangan-bilangan yang bertanda negatif ( -1, -2, -3, -4, . . . ) yang selanjutnya disebut bilangan bulat negatif.
2) Bilangan 0 (nol), dan
3) Bilangan-bilangan yang bertanda positif ( 1, 2, 3, 4, . . . ) yang selanjutnya disebut bilangan bulat positif.
Bilangan bulat terdiri atas himpunan bilangan bulat negatif {…, –3, –2, –1}, nol {0}, dan himpunan bilangan bulat positif{1, 2, 3, …}.
Dalam menyampaikan konsep operasi hitung / bilangan bulat, sebaiknya dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:
• Tahap Pertama: tahap pengenalan konsep secara konkret.
• Tahap Kedua : tahap pengenalan konsep secara semi konkret atau semi abstrak.
• Tahap Ketiga : tahap pengenalan konsep secara abstrak.
Masih cukup banyak ragam permasalahan dalam pembelajaran bilangan bulat, seperti:
1) Penggunaan alat peraga atau garis bilangan yang menyimpang dari prinsip kerjanya.
2) Salah penafsiran bentuk a + (-b) sebagai a – b atau a – (-b) sebagai a + b.
3) Masih banyak para guru dan siswa yang tidak dapat membedakan antara tanda +/- sebagai operasi hitung dengan tanda +/- sebagai jenis suatu bilangan.
4) Kurang tepatnya memberikan pengertian bilangan bulat.
5) Sulitnya memberikan penjelasan bagaimana melakukan operasi hitung pada bilangan bulat secara konkret maupun secara abstrak (tanpa menggunakan alat bantu) .
B. Saran
Kami selaku penyusun menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://zhoney.blogspot.com/2010/09/operasi-bilangan-bulat-menggunakan.html
http://media23bekasi.webnode.com/media-belajarmatematika/mediapembelajaranmatematika-penjumlahan-dan-pengurangan-bilangan-bulat/

Tinggalkan komentar »

TEORI PIAGET DAN PENERAPANNYA

TEORI PIAGET DAN PENERAPANNYA
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD/MI
“Makalah ini kami susun guna melengkapi tugas kelompok
mata kuliah Pembelajaan Matematika di MI”

Dosen Pembimbing Drs. Triyono, M.Pd

Disusun Oleh :
Kelompok III
1. Hanifah Ganda Utami
2. Islahyatul Mahmudah
3. Nur Hidayah

KELAS : PGMI VI-A

TAHUN AKADEMIK 2010-2011
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
( STAINU ) KEBUMEN
JL. TENTARA PELAJAR NO. 55 B KEBUMEN TELP/FAX. (0287) 385902

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr .wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Matematika di MI yang kami beri judul “ Teori Piaget dan Penerapannya dalam Pembelajaran Matematika di SD/MI” .
Dalam penulisan karya tulis ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. Yriyono, M.Pd selaku pembimbing mata kuliah Pembelajaran Matematika di MI.
2. Kedua orang tua kami yang telah memberi motivasi kepada kami.
3. Teman-teman kami yang telah memberi semangat.
4. Serta semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini.
Tidak ada yang dapat kami perbuat untuk membalas budi semua pihak kecuali mendoakan semoga amal baik yang telah diberikan kepada kami termasuk amal shaleh yang diterima di sisi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan kami. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Kebumen, April 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
BAB I PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
A. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
B. Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
BAB II PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
A. Pengertian Belajar Menurut Piaget . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
B. Teori Belajar menurut Piaget . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
C. Tahap Perkembangan Mental . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
D. Penerapan Teori Piaget dalam Pembelajaran Matematika di SD/MI . . . . . . . . . 5
BAB III PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
A. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
B. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses pembelajaran, guru seringkali dihadapkan pada dinamika yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik. Perubahan-perubahan dan perkembangan yang terjadi pada peserta didik ini harus mendapat perhatian dari guru, karena dengan ini guru dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Ada banyak teori –teori belajar dan teori perkembangan moral serta implementasinya dalam pembelajaran, salah satunya yaitu teori yang dikemukakan oleh Piaget. Piaget mempunyai nama lengkap Jean Piaget lahir di Swiss tepatnya di Neuchatel pada tahun 1896. Dalam teorinya Piaget mengemukakan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meski jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda satu sama lainnya. Perkembangan mental anak terjadi secara bertahap dari tahap yang satu ke tahap yang lebih tinggi. Semua perubahan yang terjadi pada setiap tahap tersebut merupakan kondisi yang diperlukan untuk mengubah atau meningkatkan tahap perkembangan moral berikutnya.
Melihat dari masalah itu kami dari penulis mencoba untuk membahas tentang teori belajar menurut Piaget. Tidak terlepas dari hal ini semoga makalah ini bisa membantu kesulitan teman-teman dalam memahami tentang teori belajar menurut Piaget.
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dalam makalah ini akan membahas mengenai beberapa masalah, antara lain :
1. Bagaimana pengertian belajar menurut Piaget?
2. Bagaimana Pendapat Piaget mengenai proses belajar pada anak-anak?
3. Bagaimana Tahap perkembangan mental anak menurut Piaget?
4. Bagaimana penerapan teori Piaget dalam Pembelajaran Matematika di SD/MI?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar menurut Piaget
Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan
Menurut Piaget pengetahuan (knowledge) adalah interaksi yang terus menerus antara individu dengan lingkungan. Fokus perkembangan kognitif Piaget adalah perkembangan secara alami fikiran pebelajar mulai anak-anak sampai dewasa. Konsepsi perkembangan kognitif Piaget, duturunkan dari analisa perkembangan biologi organisme tertentu. Menurut Piaget, intelegen (IQ=kecerdasan) adalah seperti sistem kehidupan lainnya, yaitu proses adaptasi.

B. Teori Belajar menurut Piaget
Pendapat Piaget mengenai perkembangan proses belajar pada anak-anak adalah:
1. Anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa. Mereka bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk anak kecil, mereka mempunyai cara yang khas ntuk menyatakan kenyataan dan untuk menghayati dunia sekitarnya. Maka memerlukan pelayanan tersendiri dalam belajar.
2. Perkembangan mental pada anak melalui tahap-tahap tertentu, menurut suatu urutan yang sama bagi semua anak.
3. Walaupun berlangsungnya tahap-tahap perkembangan itu melalui suatu urutan tertentu tetapi jangka waktu untuk berlatih dari satu tahap ke tahap yang lain tidaklah selalu sama pada setiap anak.
4. Perkembangan mental anak dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu:
a. Kemasakan
b. Pengalaman
c. Interaksi Sosial
d. Equilibration (proses dari ketiga faktor di atas bersama-sama untuk membangun dan memperbaiki struktur mental)
5. Ada 4 tahap perkembangan yaitu:
a. Tahap Sensori motor (0-2,0 tahun)
b. Tahap Pre operasional (2,0-7,0 tahun)
c. Tahap konkret (7,0-11,0 tahun)
d. Tahap operasi formal (11,0-dewasa)

C. Tahap Perkembangan Mental
1. Tahap Sensori motor (0 – 2,0 tahun)
Pada periode ini tingkah laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan system penginderaan untuk mengenal lingkungannya untuk mengenal obyek.
Ciri pokok perkembangannya anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek.
Karakteristik anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:
 Berfikir melalui perbuatan (gerak).
 Perkembangan fisik yang dapat diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan bicara.
 Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya.
 Cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak logis.
Contoh : Pengalaman awal bayi dengan payudara ibunya (Inisiasi) dan bayi yang pertama kali memasukan jari-jarinya ke dalam mulut.
Kemampuan yang dicapai anak pada masa ini:
a) Kemampuan mengontrol secara internal, yaitu terbentuknya control dari dalam pikirannya terhadap dunia nyata.
b) Perkembangan konsep kenyataan.
c) Perkembangan pengertian beberapa sebab akibat
2. Tahap Pre operasional (2,0 – 7,0 tahun)
Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan simbolisasi.
Ciri pokok perkembangannya adalah penggunaan symbol/bahasa tanda dan konsep intuitif.
Karakteristik anak pada tahap ini adalah sebagai berikut:
 Anak dapat mengaitkan pengalaman yang ada di lingkungan bermainnya dengan pengalaman pribadinya, dan karenanya ia menjadi egois. Anak tidak rela bila barang miliknya dipegang oleh orang lain.
 Anak belum memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan pemikiran “yang dapat dibalik (reversible).” Pikiran mereka masih bersifat irreversible.
 Anak belum mampu melihat dua aspek dari satu objek atau situasi sekaligus, dan belum mampu bernalar (reasoning) secara individu dan deduktif.
 Anak bernalar secara transduktif (dari khusus ke khusus). Anak juga belum mampu membedakan antara fakta dan fantasi. Kadang-kadang anak seperti berbohong. Ini terjadi karena anak belum mampu memisahkan kejadian sebenarnya dengan imajinasi mereka.
 Anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi).
 Menjelang akhir tahap ini, anak mampu memberi alasan mengenai apa yang mereka percayai. Anak dapat mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang hanya mempunyai satu sifat tertentu dan telah mulai mengerti konsep yang konkrit.
Contoh : pandangan anak terhadap dua tanah liat sama besar yang dibulatkan, kemudian bulatan yang satu dipipihkan dan yang satu tetap dalam keadaan bulat.

3. Tahap konkret (7,0 – 11,0 tahun)
Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi, sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis.
(Ciri pokok perkembangannya anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret).
Contoh : Anak sudah dapat membedakan ukuran binatang, ataupun sudah dapat mengelompokkannya.berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki.
4. Tahap formal (11,0 – dewasa)
Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif, anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis, masalah verbal, dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima pandangan orang lain.
(Ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, dan logis).
Contoh : Membuktikan benda-benda yang dapat larut dan yang tidak larut dalam air.

D. Penerapan Teori Piaget dalam Pembelajaran Matematika di SD/MI
Teori kognitif dan teori pengetahuan Piaget sangat banyak mempengaruhi bidang pendidikan, terlebih pendidikan kognitif. Tahap-tahap pemikiran Piaget sudah cukup lama mempengaruhi bagaimana para pendidik menyusun kurikulum, memilih metode pengajaran dan juga memilih bahan ajar terutama di sekolah-sekolah.
Maka dari karya besar Piaget tersebut dapat diimplementasikan pada proses pembelajaran disekolah sesuai dengan teori perkembangannya itu sendiri. Implementasi pada pembelajaran matematika yang akan diterakan berikut hanya merupakan bentuk sebagian saja sebagai contoh yang cocok untuk pengetahuan dan pengembangan terhadap materi pembelajaran itu sendiri. Tentu yang terpenting adalah kesesuaian dengan pemilihan model, pendekatan serta metode dalam pembelajaran terhadap materi ajar.
Berikut contoh pembelajaran berdasar pada teori Piaget sesuai tahap perkembangan kognitif anak usia sekolah.
Pokok Bahasan : Bangun Ruang.
Sub Pokoh Bahasan : 1. Kubus.
1. Balok.
2. Tabung.
3. Prisma.
4. Limas.
5. Kerucut.
6. Bola.
Pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar (SD).
• Anak sudah mulai diperkenalkan dengan pendalaman bentuk bangun yang dia ketahui tersebut.
• Pengelompokan bangun juga mulai hanya diperkenalkan, bahwa kubus, balok dan yang lainnya termasuk bangun ruang.
• Anak-anak juga berkontekstual dengan bangun-bangun tersebut sehingga ada pemahamannya tentang apa-apa saja yang terdapat pada bangun itu. Seperti kubus, tentu memiliki panjang, lebar dan juga tinggi.
• Keterhubungan unsur yang dimiliki belum dijelaskan.
• Melanjutkan pembelajaran di kelas-kelas berikutnya sampai pada operasi-operasi sederhana yang terdapat pada bangun itu.
• Contoh: Gambar & Bentuk Berbagai Bangun Ruang

Penjelasan;
Sesuai kurikulum pembelajaran tematik bangun ruang ini baru diperkenalkan dikelas II SD, itu artinya pembelajaran-pembelajaran sebelumnya tentu masih mengacu pada pra operasional. Dan pada pembelajaran selanjutnya di SD ini sudah memasuki tahap Operasi Konkret sesuai teori perkembangan kognitif Piaget.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perkembangan kognitif adalah tahap-tahap perkembangan kognitif manusia mulai dari usia anak-anak sampai dewasa; mulai dari proses-proses berpikir secara konkret sampai dengan yang lebih tinggi yaitu konsep-konsep abstrak dan logis.
Jean Piaget seorang pakar yang banyak melakukan penelitian tentang perkembangan kemampuan kognitif manusia, mengemukakan dalam teorinya bahwa kemampuan kognitif manusia terdiri atas 4 tahap dari lahir hingga dewasa. Tahap dan urutan berlaku untuk semua usia tetapi usia pada saat seseorang mulai memasuki tahap tertentu tidak sama untuk setiap orang. Keempat tahap perkembangan itu digambarkan dalam teori Piaget sbb:
1. Tahap sensorimotor: umur 0 – 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek).
2. Tahap pra-operasional: umur 2 – 7 tahun (Ciri pokok perkembangannya adalah penggunaan symbol/bahasa tanda dan konsep intuitif).
3. Tahap operasional konkret: umur 7 – 11/12 tahun (anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret).
4. Tahap operasional formal: umur 11/12 ke atas. (Ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, deduktif dan induktif serta logis dan probabilitas).
Bagi guru matematika, teori Piaget jelas sangat relevan, karena dengan menggunakan teori ini, guru dapat mengetahui adanya tahap-tahap perkembangan tertentu pada kemampuan berpikir anak di kelasnya.
Dengan demikian guru bisa memberikan perlakuan yang tepat bagi siswanya, misalnya dalam memilih cara penyampaian materi bagi siswa, penyediaan alat-alat peraga dan sebagainya, sesuai dengan tahap perkembangan kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa masing-masing. Guru perlu mencermati apakah simbol-simbol matematika yang digunakan guru dalam mengajar cukup mudah dipahami siswa, dengan mengingat tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh masing-masing siswa.

B. Saran
Kami selaku penyusun menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Dahar Ratna Willis.Prof.Dr. 1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta: P2LPTK.
_____________________. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA UPI.
Sardiman, AM. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rapgrapindo Persada.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT, Rineka Cipta.
Paul Suparno. Prof. 2003. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius.

Tinggalkan komentar »

METODE EKSPOSITORI

David B. Ausubel adalah salah satu pakar dalam pendidikan dan psikologi yang berpendapat bahwa metode ceramah (lecture method) merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif, apabila dipakai secara tepat.
Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh guru secara cermat. Penggunaan metode ekspositori merupakan metode pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung.
Menurut Ausubel, metode-metode ekspositoris merupakan metode yang sangat efektif untuk mentransfer hasil penemuan di masa lalu kepada generasi berikutnya. Metode-metode ini semuanya masih bisa memberikan hasil pembelajaran yang baik atau buruk tergantung dari pelaksanaannya di kelas. Berkaitan dengan hasil pembelajaran Ausubel membedakan antara belajar yang bermakna dengan yang tak bermakna. Menurut Ausubel, metode-metode ekspositoris yang digunakan dalam proses pembelajaran akan sangat efektif dalam menghasilkan kegiatan belajar yang bermakna (meaningful learning) apabila dipenuhi dua syarat berikut:
1) Siswa memiliki meaningful learning set, yaitu sikap mental yang mendukung terjadinya kegiatan belajar yang bermakna. Contoh: siswa betul-betul mempunyai keinginan yang kuat untuk memahami hal-hal yang akan dipelajari, dan berusaha untuk mengaitkan hal-hal baru yang dipelajari dengan hal-hal lama yang telah ia ketahui, yang kiranya relevan.
2) Materi yang akan dipelajari atau tugas yang akan dikerjakan siswa adalah materi atau tugas yang bermakna bagi siswa; artinya, materi atau tugas tersebut terkait dengan struktur kognitif yang pada saat itu telah dimiliki siswa, sehingga dengan demikian siswa bisa mengasimilisasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang dipelajri itu kedalam struktur kognitif yang ia miliki. Dan dengan demikian, struktur kognitif siswa mengalami perkembangan.
Ausubel mengemukan dua prinsip penting dalam metode ekspositoris yang perlu diperhatikan dalam penyajian materi pembelajaran bagi siswa, yaitu:
 Prinsip diferensiasi progresif, yang menyatakan bahwa dalam penyajian materi pembelajaran bagi siswa, materi, Informasi atau gagasan yang bersifat paling umum disajikan lebih dahulu dan baru sesudah itu disajikan materi, informasi atau gagasan yang lebih detail (terdiferensiasi). Prinsip ini didasarkan pada pandangan Ausubel bahwa cara belajar yang efektif adalah cara belajar yang mengupayakan adanya pemahaman terhadap struktur dari materi yang dipelajari.
 Prinsip rekonsiliasi integrative, yang menyatakan bahwa materi atau informasi yang baru dipelajari perlu direkonsiliasikan dan diintegrasikan dengan materi yang sudah lebih dulu dipelajari, sehingga setiap materi yang baru terkait dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Menurut Ausebel setiap bidang ilmu memiliki srtruktur tersendiri yang jelas. Agar siswa bisa mempelajari materi pembelajaran suatu bidang ilmu secara efektif, siswa harus memahami struktur dari bidang ilmu tersebut.
Ciri-ciri metode ekspositoris :
a. Guru mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir.
b. Mempersiapkan pertanyaan.
c. Mempertimbangkan dimana pertanyaan harus digunakan.
d. Tahapan mengajar dengan peta konsep.
e. Guru memberikan informasi melalui ceramah, demostrasi, atau tanya jawab.
f. Siswa mencatat, menjawab pertanyaan atau tugas.
g. Konsep sukar melalui proses induktif.
Pada umumnya guru lebih suka menggunakan metode ceramah dikombinasikan dengan metode tanya jawab. Metode ceramah banyak dipilih karena mudah dilaksanakan dengan persiapan yang sederhana, hemat waktu dan tenaga, dengan satu langkah langsung bisa menjangkau semua siswa dan dapat dilakukan cukup di dalam kelas. Popham & Baker (1992 : 79) menjelaskan bahwa setiap penyajian informasi secara lisan dapat disebut ceramah. Penyajian ceramah yang bersifat formal dan biasanya berlangsung selama 45 menit maupun yang informal yang hanya berlangsung selama 5 menit. Ceramah tidak dapat dikatakan baik atau buruk, tetapi penyampaian ceramah harus dinilai menurut tujuan penggunaannya.
Lebih lanjut Hasibuan dan Moedjiono (2000:13) mengemukakan bahwa agar metode ekspositoris efektif perlu dipersiapkan langkah-langkah sebagai berikut:
a) merumuskan tujuan instruksional khusus yang luas,
b) mengidentifikasi dan memahami karakteristik siswa,
c) menyusun bahan ceramah dengan menggunakan bahan pengait (advance organizer),
d) menyampaikan bahan dengan memberi keterangan singkat dengan menggunakan papan tulis, memberikan contoh-contoh yang konkret dan memberikan umpan balik (feed back), memberikan rangkuman setiap akhir pembahasan materi,
e) merencanakan evaluasi secara terprogram.
Dalam proses pembelajaran dengan metode ceramah harus peka terhadap respon siswa. Skiner dalam Driscoll (1994 : 30) menjelaskan bahwa diskripsi hubungan antara stimulan dan respon tidaklah sesederhana yang diperkirakan, melainkan stimulan yang diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini artinya mempengaruhi respon yang diberikan juga menghasilkan berbagai konsekuensi yang akan mempengaruhi tingkah laku siswa.
Untuk menciptakan terjadinya interaksi, menarik perhatian siswa dan melatih keterampilan siswa, metode ceramah biasanya dikombinasikan dengan metode tanya jawab dan pemberian tugas. Resitasi atau tugas dapat pula dikerjakan di luar rumah ataupun di dalam laboratorium.
Menurut Sujadi (1983 : 3), di dalam pembelajaran matematika penggunaan metode ceramah bermakna dan tanya jawab tersebut masih ditambah dengan pemberian contoh-contoh berupa gambar-gambar, model bangunan, dan contoh rumus-rumus beserta penggunaannya. Guru menjelaskan materi dengan bantuan gambar atau model, untuk mempermudah penanaman konsep bangun datar dan ruang.
Somantri (2001 : 45) membedakan metode ekspositori dan metode ceramah. Dominasi guru dalam metode ekspositori banyak dikurangi. Guru tidak terus bicara, informasi diberikan pada saat-saat atau bagian-bagian yang diperlukan, seperti di awal pembelajaran, menjelaskan konsep-konsep dan prinsip baru, pada saat memberikan contoh kasus di lapangan dan sebagainya. Metode ekspositori adalah suatu cara menyampaikan gagasan atau ide dalam memberikan informasi dengan lisan atau tulisan.
Menurut Herman Hudoyo(1998 : 133) metode ekspositori dapat meliputi gabungan metode ceramah, metode drill, metode tanya jawab, metode penemuan dan metode peragaan. Pentatito Gunawibowo (1998 : 6.7) dalam pembelajaran menggunakan metode ekspositori, pusat kegiatan masih terletak pada guru. Dibanding metode ceramah, dalam metode ini dominasi guru sudah banyak berkurang. Tetapi jika dibanding dengan metode demonstrasi, metode ini masih nampak lebih banyak.
Kegiatan guru berbicara pada metode ekspositori hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja, seperti pada awal pembelajaran, menerangkan materi, memberikan contoh soal. Kegiatan siswa tidak hanya mendengarkan, membuat catatan, atau memperhatikan saja, tetapi mengerjakan soal-soal latihan, mungkin dalam kegiatan ini siswa saling bertanya. Mengerjakan soal latihan bersama dengan temannya, dan seorang siswa diminta mengerjakan di papan tulis. Saat kegiatan siswa mengerjakan latihan, kegiatan guru memeriksa pekerjaan siswa secara individual dan menjelaskan kembali secara individual. Apabila dipandang masih banyak pekerjaan siswa belum sempurna, kegiatan tersebut diikuti penjelasan secara klasikal.
Pendapat David P. Ausebul dalam Pentatito Gunowibowo (1998:6.7) menyebutkan bahwa metode ekspositori merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien dalam menanamkan belajar bermakna. Selanjutnya Dimyati dan Mudjiono (1999:172) mengatakan metode ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa.
Peranan guru yang penting yaitu :
1) menyusun program pembelajaran,
2) memberi informasi yang benar,
3) pemberi fasilitas yang baik,
4) pembimbing siswa dalam perolehan informasi yang benar, dan
5) penilai perolehan informasi.
Sedangkan peranan siswa yaitu:
1) pencari informasi yang benar,
2) pemakai media dan sumber yang benar,
3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru.
Dari beberapa pendapat di atas, bahwa metode ekspositoris yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengombinasikan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Pemberian tugas diberikan guru berupa soal-soal (pekerjaan rumah) yang dikerjakan secara individual atau kelompok. Adapun hasil belajar yang dievaluasi adalah luas dan jumlah pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang dikuasai siswa. Pada umumnya alat evaluasi hasil belajar yang digunakan adalah tes yang telah dibakukan atau tes buatan guru.

Tinggalkan komentar »

RPP BUNGA^^

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah : SDN V Kutosari Kebumen
Kelas / Semester : IV / 1
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam
Pokok Bahasan : Bagian-bagian Bunga dan Fungsinya
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (1 x pertemuan)
Tanggal Pelaksanaan : 27 Juni 2011

Disusun Oleh:
HANIFAH GANDA UTAMI
10. 209160
S1 PGMI / IV A

PROGRAM S1 PGMI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDATUL ULAMA
( STAINU ) KEBUMEN
TAHUN AKADEMIK 2010 / 2011

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah : SDN Kutosari V Kebumen
Mata pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas / Semester : IV / I ( satu )
Waktu : 2 x 35 menit ( 1 x pertemuan )
Tanggal Pelaksanaan : 27 Juni 2011

STANDAR KOMPETENSI
2. Memahami hubungan antara struktur bagian tumbuhan dengan fungsinya.

KOMPETENSI DASAR
2.4. Menjelaskan hubungan antara bunga dengan fungsinya.

INDIKATOR
Mengidentifikasi bagian-bagian tubuh tumbuhan (bunga) dan fungsinya bagi tumbuhan itu sendiri.
Menyebutkan bagian-bagian bunga beserta fungsinya.
Menjelaskan proses penyerbukan pada bunga.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah melakukan pengamatan di lingkungan sekolah dengan mengisi LKS, siswa kelas IV mampu mengidentifikasi bagian-bagian bunga dengan benar.
Setelah berdiskusi tentang bagian-bagian bunga, siswa kelas IV dapat menyebutkan bagian-bagian bunga beserta fungsinya dengan tepat.
Setelah membaca buku sumber dan didiskusikan tentang fungsi utama bunga bagi tumbuhan, siswa kelas IV dapat menyebutkan fungsi utama bunga bagi tumbuhan dengan benar.
Setelah memperhatikan penjelasan dari guru dan tanya jawab tentang kelengkapan bagian-bagian bunga, siswa kelas IV dapat mengklasifikasikan bunga berdasarkan kelengkapannya dengan tepat.
Setelah mengamati gambar yang disajikan oleh guru dan membaca buku sumber tentang alat perkembangbiakan pada bunga, siswa kelas IV dapat menjelaskan alat perkembangbiakan pada bunga dengan benar.
Setelah memperhatikan demonstrasi tentang proses penyerbukan pada bunga yang disajikan oleh salah satu kelompok, siswa kelas IV dapat menjelaskan proses penyerbukan pada bunga dengan benar.

MATERI PEMBELAJARAN
Bunga

Peta konsep

2. Bagian-bagian Bunga:
Bagian-bagian Bunga Fungsi
a) Tangkai bunga * sebagai penopang bunga.
* sebagai penyambung antara bunga dan batang atau ranting.
b) Kelopak bunga melindungi mahkota bunga ketika masih kuncup.
c) Mahkota bunga * perhiasan bunga.
* untuk menarik perhatian kupu-kupu serangga lainnya
(membantu dalam proses penyerbukan) agar hinggap pada bunga.
d) Putik
* alat kelamin betina.

e) Benang sari alat kelamin jantan.

3. Fungsi utama bunga bagi tumbuhan: sebagai alat perkembangbiakan.
4. # Berdasarkan kelengkapan strukturnya, bunga dibedakan menjadi:
Bunga lengkap/sempurna, (memiliki tangkai, kelopak, mahkota, benang sari, & putik).
Bunga tidak lengkap, (bila tidak ada salah satu / beberapa bagian bunga).
# Berdasarkan kelengkapan alat kelaminnya, bunga digolongkan menjadi:
Bunga hermaprodit, (memiliki benang sari dan putik).
Bunga uniseksual, (hanya memiliki benang sari / putik saja) terdiri atas:
Bunga jantan, bila hanya ada benang sari saja.
Bunga betina, bila hanya ada putik saja.

5. Alat perkembangbiakan bunga:
Putik alat kelamin betina
– kepala putik : tempat terjadi proses penyerbukan.
– tangkai putik : penghubung antara kepala putik dan bakal buah.
Benang sari alat kelamin jantan
– tangkai sari
– kepala sari : menghasilkan serbuk sari.
Proses penyerbukan pada bunga
Penyerbukan terjadi ketika serbuk sari menempel pada kepala putik. Dapat menempel dengan baik jika mendapat bantuan dari alam (sinar matahari, air, angin), hewan dan manusia.
Sinar matahari akan memanaskan serbuk sari sehingga serbuk sari semakin ringan. Angin yang bertiup menggoyang-goyang batang sehingga serbuk sari beterbangan dan berjatuhan dan menempel di kepala putik yang menyebabkan penyerbukan. Angin juga membantu penyebaran benih mengaturnya agar tidak berdesakan dengan menerbangkan ke tempat yang jauh.
Selain itu, serbuk sari dapat menempel pada kaki, kepala, dan tubuh serangga, burung atau kelelawar yang hinggap di bunga. Manusia juga dapat membantu penyerbukan, misalnya pada bunga vanili.

Padi, jagung, alang2, penyerbukannya dibantu oleh angin. Kebanyakan bunga dibantu penyerbukannya oleh serangga (lebah,kupu-kupu). Burung Kolibri, salah satu hewan penyerbuk. Bunga Vanili, penyerbukannya dibantu oleh manusia.

MODEL, METODE, DAN MEDIA PEMBELAJARAN
Model Pembelajaran : Quantum Teaching
Metode Pembelajaran : – Ceramah bervariasi – Pengamatan
Tanya jawab – Demonstrasi
Diskusi – Penugasan

Media Pembelajaran :
Berbagai macam bunga di lingkungan sekolah
Gambar alat perkembangbiakan pada bunga
Buku sumber IPA kelas IV
LKS

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
No Kegiatan Waktu Metode
1. Kegiatan Awal
Salam
“Assalamu’alaikum wr. wb.”
Berdoa
“Sebelum kegiatan pembelajaran pada hari ini kita mulai, marilah kita berdoa terlebih dahulu. Silahkan ketua kelas memimpin doa”.
Mengecek kehadiran siswa
“Apakah hari ini ada yang tidak masuk?”
Tes penjajagan
“Menurut kalian, bagian tumbuhan manakah yang paling banyak disukai? Bunga apa yang kamu sukai?”
Apersepsi
“Mari kita menyanyikan lagu Kebunku” (Tumbuhkan)
Kebunku
Lihat kebunku, penuh dengan bunga
Ada yang putih, dan ada yang merah
Setiap hari kusiram semua
Mawar melati, semuanya indah !!!!
Acuan
“Anak-anak pada hari ini kita akan belajar mengenai bunga. Ibu harap kalian dapat menyebutkan bagian-bagian dari bunga beserta fungsinya.”
a. Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang KD yang akan dicapai. (Tumbuhkan)
Tanya jawab tentang materi yang lalu. (Tumbuhkan) 10 Ceramah bervariasi, Tanya jawab

2. Kegiatan Inti
Eksplorasi
Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok oleh guru.
Siswa memperhatikan penjelasan guru mengenai kegiatan pengamatan yang akan dilakukan. (Tumbuhkan)
Siswa di bawah bimbingan guru keluar kelas untuk mengamati macam-macam bunga yang ada di lingkungan sekolah.
Siswa mengamati bagian-bagian dari bunga. (Alami)
Siswa mencatat hasil pengamatan di tabel hasil pengamatan pada LKS. (Namai)
Elaborasi
Dalam kelompok siswa mendiskusikan hasil pengamatan bagian-bagian dari bunga.
(Alami dan demonstrasikan)
Siswa mencoba mencari tahu fungsi dari masing-masing bagian bunga tersebut. (Alami)
Setiap kelompok juga mendiskusikan fungsi utama bunga bagi tumbuhan.
(Alami dan demonstrasikan)
Siswa mencatat hasil diskusi kelompok.
Siswa memperhatikan penjelasan guru & tanya jawab tentang kelengkapan bagian-bagian bunga supaya siswa dapat mengklasifikasikan bunga berdasarkan kelengkapan strukturnya. (Tumbuhkan)
Siswa mengamati gambar alat perkembang biakan pada bunga dan membaca buku sumber. (Alami)
Salah satu kelompok ditunjuk oleh guru untuk mendemonstrasikan proses penyerbukan pada bunga berdasarkan buku sumber.
(Alami dan demonstrasikan)
Konfirmasi
Siswa melaporkan hasil diskusi tentang bagian-bagian bunga beserta fungsinya. (Alami)
Setiap kelompok secara bergantian menjelaskan hasil diskusi kepada kelompok lain, sementara kelompok yang lainnya memperhatikan apa yang disampaikan dari kelompok lain. (Demonstrasikan)
Siswa dan guru bertanya jawab tentang bagian-bagian bunga beserta fungsinya. (Tumbuhkan)
Siswa bersama guru membahas hasil diskusi tersebut. (Ulangi)
Siswa bersama guru menyimpulkan hasil diskusi tentang struktur bagian tumbuhan dan fungsinya. (Ulangi)
Siswa menjawab pertanyaan guru tentang struktur bagian-bagian bunga secara berkelompok seperti kuis dan kelompok dengan jawaban benar terbanyak akan mendapat bintang dari guru dan tepuk tangan dari kelompok lain. (Rayakan)
15

20

10
Ceramah bervariasi, Pengamatan

Diskusi, Ceramah bervariasi, Tanya jawab, Pengamatan,Demonstrasi

Tanya jawab, Ceramah bervariasi
3. Kegiatan Akhir
Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal yang belum jelas.
Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran.
Siswa diberi kesempatan mencatat hal-hal yang penting.
Siswa melaksanakan evaluasi dan analisis hasil evaluasi.
Siswa melaksanakan tindak lanjut.
Siswa bersama guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan salam.
Siswa menjawab salam dari guru. 15 Penugasan

SUMBER PEMBELAJARAN
Haryanto. 2004. Sains untuk Sekolah Dasar Kelas IV. Jakarta: Erlangga.
(halaman 34-35)
Hidayat, Basuki. 2004. Ilmu Pengetahuan Alam untuk Kelas IV. Klaten: Intan Pariwara.
(halaman 27-30)
S. Rositawaty, Aris Muharram. 2008. Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam 4 untuk SD / MI Kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
(halaman 29-31)
PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT
Penilaian
Penilaian Proses
No. Nama
Siswa Aspek yang Dinilai Skor Akhir Keterangan
Keaktifan Kerjasama Kedisiplinan

Skor kuantitatif (angka skala 100)
Deskriptor Penilaian Proses:
Keaktifan:
Aktif bertanya, menjawab, berpendapat
Aktif mengerjakan tugas
Antusias tinggi
Aktif bersama kelompok
Kerja sama:
Kompak
Tanggung jawab dengan kelompok baik
Pembagian tugas sesuai dengan kemampuan
Saling menghormati & menghargai pendapat anggota lain
Kedisiplinan:
Tidak berbuat gaduh / ramai
Tidak mengganggu siswa lain
Tepat waktu
Mematuhi peraturan yang berlaku

Skala Penilaian
Skor (≥ 80) : memenuhi 4 deskriptor = A (Sangat Baik)
Skor (70-79) : memenuhi 3 deskriptor = B (Baik)
Skor (60-69) : memenuhi 2 deskriptor = C (Sedang)
Skor ( 50-59) : memenuhi 1 deskriptor = D (Kurang)
Skor ( < 50) : tidak memenuhi semua deskriptor = E (Tidak Baik)

Penilaian Hasil
Prosedur Penilaian : Penilaian Hasil
Jenis Test : Tes Tertulis
Bentuk Test : Objektif
Instrumen, Kunci Jawaban, dan Teknik Penskoran

Instrumen
Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, atau d di depan jawaban yang benar !
Bagian bunga yang dapat menarik perhatian serangga adalah …
tangkai bunga c. putik
mahkota d. kelopak
Bagian bunga yang berfungsi sebagai alat kelamin jantan adalah …
benang sari c. kelopak
putik d. mahkota
Serangga dapat membantu penyerbukan karena …
Benang sari yang menempel pada serangga dapat menempel pada putik lain.
Putik yang menempel pada serangga terbawa dan menempel ke bunga lain.
Serbuk sari yang terbawa serangga menempel pada kepala putik.
Kepala putik yang terbawa serangga menempel ke bunga lain.
Peristiwa jatuhnya serbuk sari di atas kepala putik disebut …
pembuahan c. perkembangbiakan
penyerbukan d. fotosintesis
Kupu-kupu menempel pada bunga untuk menghisap …
air c. benang sari
serbuk sari d. nektar
Fungsi bunga yang utama pada tumbuhan …
Sebagai hiasan
Sebagai alat perkembangbiakan
Sebagai pengangkut air dan zat hara
Sebagai penyimpan cadangan makanan
Benang sari terletak di …
bagian tengah bunga yang berdekatan dengan mahkota
bagian bawah bunga
bagian samping bunga
bagian bawah dekat kelopak bunga
Bunga mawar, bunga melati, bunga matahari merupakan …
bunga berwarna-warni c. bunga sempurna
bunga homogen d. bunga tidak sempurna
Putik terdiri dari …
serbuk dan kepala c. benang dan serbuk
kepala dan tangkai d. kelopak dan benang
Bunga yang memiliki putik dan benang sari dalam 1 bunga disebut …
bunga homogen c. bunga sempurna
bunga heterogen d. bunga hermaprodit

Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar!
Bagian tumbuhan yang berfungsi untuk penyerbukan adalah ….
Mahkota bunga berfungsi sebagai ….
Kelopak bunga terletak di ….
Bunga yang memiliki semua bagian kecuali benang sari disebut ….
Serangga sangat menyukai bunga karena …

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat !
Sebutkan bagian-bagian dari bunga !
Jelaskan fungsi dari kelopak bunga !
Jelaskan alat perkembangbiakan pada bunga !
Sebutkan klasifikasi bunga berdasarkan kelengkapan strukturnya !
Jelaskan proses penyerbukan yang terjadi pada bunga !

Kunci Jawaban
1. B 6. B
A 7. A
C 8. C
B 9. B
D 10. D
1. Bunga
Sebagai perhiasan bunga untuk menarik perhatian serangga.
Di bawah mahkota bunga.
Bunga betina
Warna yang menarik dan bau wangi yang menyengat.
1. Bagian-bagian bunga:
– tangkai bunga – benang sari
– kelopak bunga – putik
– mahkota bunga
2. Melindungi mahkota bunga saat masih kuncup.
3. Alat perkembangbiakan bunga:
* Putik alat kelamin betina
– kepala putik : tempat terjadi proses penyerbukan.
– tangkai putik : penghubung antara kepala putik dan bakal buah.
* Benang sari alat kelamin jantan
– tangkai sari
– kepala sari : menghasilkan serbuk sari.
4. Jenis-jenis bunga:
a) bunga lengkap (sempurna)
b) bunga tidak lengkap
5. Proses penyerbukan pada bunga diawali dengan kepala sari menghasilkan serbuk sari yang bersifat ringan dan mudah tertiup angin. Selain itu, serbuk sari dapat menempel pada kaki, kepala, dan tubuh kupu-kupu atau serangga yang hinggap pada bunga. Akibatnya, tanpa disadari proses penyerbukan terjadi karena serbuk sari yang tertiup angin atau yang menempel pada tubuh serangga jatuh dan menempel di kepala putik.

Teknik Penskoran
Skor I = 10 x 1 = 10
Skor II = 5 x 2 = 10
Skor III = 5 x 3 = 15
Skor maksimal = 35

Daftar Skor Hasil

No. Nama Siswa Skor Keterangan

2. Tindak Lanjut
Kegiatan remidi dilaksanakan apabila nilai evaluasi IPA siswa tentang Bagian-bagian Bunga dan Fungsinya kurang dari 70 (< 70).
Kegiatan pengayaan dilaksanakan apabila nilai evaluasi IPA siswa tentang Bagian-bagian Bunga dan Fungsinya lebih dari atau sama dengan 70 ( ≥70).
Analisis hasil dapat dilakukan pada waktu akhir pembelajaran atau setelah pembelajaran selesai dan pelaksanaan tindak lanjut yaitu remidi berupa pemberian tugas dan pengayaan berupa materi selanjutnya.

Kebumen, 27 Juni 2011
Mengetahui
Kepala SDN V Kutosari

Puji Lestari, A. Ma
NIP 19530852 197515 1 089
Wali Kelas IV

Hanifah Ganda Utami
NIM 10.209160

Tinggalkan komentar »

KHULAFAUR RASYIDIN

MAKALAH
KHULAFAUR RASYIDIN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan Islam

DOSEN PEMBIMBING :
Drs. Hartono, M.Pd.I

DISUSUN OLEH :
Kelompok I
1. Ani Wiji Astuti (10.209155)
2. Anwar Sarif Hidayat (10.209156)
3. Hanif Anom Wibowo (10.209159)
4. Hanifah Ganda Utami (10.209160)

S1 PGMI / IV A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDATUL ULAMA
( STAINU ) KEBUMEN
TAHUN AKADEMIK 2010 / 2011

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr .wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam yang kami beri judul “ Khulafaur Rasyidin”.
Dalam penulisan karya tulis ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Hartono, M.Pd.I selaku pembimbing mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam.
2. Kedua orang tua kami yang telah memberi motivasi kepada kami.
3. Teman-teman kami yang telah memberi semangat.
4. Serta semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini.
Tidak ada yang dapat kami perbuat untuk membalas budi semua pihak kecuali mendoakan semoga amal baik yang telah diberikan kepada kami termasuk amal shaleh yang diterima di sisi Allah SWT.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan kami. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Kebumen, Mei 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
KATA PENGANTAR. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
DAFTAR ISI. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
BAB I PENDAHULUAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
A. Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
B. Rumusan Masalah. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
BAB II PEMBAHASAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
A. Pengertian Khulafaur Rasyidin . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
B. Masa Abu Bakar as Shiddiq . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
C. Masa Umar bin Khatab . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
D. Masa Usman bin Affan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
E. Masa Ali bin Abu Thalib . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
BAB III PENUTUP. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
A. Kesimpulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
B. Saran. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
DAFTAR PUSTAKA. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 12 Rabiulawal tahun 11 H atau tanggal 8 Juni 632 M. Sesaat setelah beliau wafat, situasi di kalangan umat Islam sempat kacau. Hal ini disebabkan Nabi Muhammad SAW tidak menunjuk calon penggantinya secara pasti. Dua kelompok yang merasa paling berhak untuk dicalonkan sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW adalah kaum Muhajirin dan Anshar.
Terdapat perbedaan pendapat antara Kaum Muhajirin dan Anshar karena kaum Muhajirin mengusulkan Abu Bakar as Shiddiq, sedangkan kaum Anshar mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai pengganti nabi Muhammad SAW.
Perbedaan pendapat antara dua kelompok tersebut akhirnya dapat diselesaikan secara damai setelah Umar bin Khatab mengemukakan pendapatnya. Selanjutnya, Umar menegaskan bahwa yang paling berhak memegang pimpinan sepeninggal Rasulullah adalah orang-orang Quraisy. Alasan tersebut dapat diterima oleh kedua belah pihak.
Melihat dari masalah itu kami dari penulis mencoba untuk membahas tentang Khulafaur Rasyidin. Tidak terlepas dari hal ini semoga makalah ini bisa membantu kesulitan teman-teman dalam memahami tentang Khulafaur Rasyidin.

B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dalam makalah ini akan membahas mengenai beberapa masalah, antara lain :
1) Apa pengertian dari Khulafaur Rasyidin ?
2) Siapa sajakah yang termasuk Khulafaur Rasyidin ?
3) Bagaimana pemerintahan dari masing-masing khalifah tersebut ?

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
A. Pengertian Khulafaur Rasyidin
Khulafaur Rasyidin menurut bahasa artinya para pemimpin yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Sedangkan menurut istilah yaitu para khalifah (pemimpin umat Islam) yang melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai kepala negara (pemerintah) setelah Rasulullah SAW wafat.
Rasulullah SAW meninggal dunia tidak hanya sebagai seorang Nabi yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan risalah agama Islam, namun lebih dari itu Beliau juga seorang kepala negara yang memimpin suatu negara. Oleh karena itu, jabatannya sebagai kepala pemerintahan harus ada yang menggantikannya.
Maka setelah Rasulullah wafat, para sahabat Muhajirin maupun sahabat Anshor berkumpul untuk bermusyawarah mengangkat seorang pemimpin diantara mereka. Pengangkatan seorang pemimpin atas dasar musyawarah yang dilakukan secara demokratis sesudah wafatnya Nabi inilah yang disebut Khulafaur Rasyidin. Jumlahnya ada 4 orang, yaitu:
a. Abu Bakar as Shiddiq
b. Umar bin Khatab
c. Usman bin Affan
d. Ali bin Abu Thalib
Sesudah Ali bin Abu Thalib, para pemimpin umat Islam (khalifah) tidak termasuk Khulafaur Rasyidin karena mereka merubah sistem dari pemilihan secara demokratis menjadi kerajaan, yaitu kepemimpinan didasarkan atas dasar keturunan seperti halnya dalam sistem kerajaan.
B. Masa Abu Bakar as Shiddiq ( 11 – 13 H = 632 – 634 M )
Khalifah pertama sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar as Shiddiq. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi Ghufah. Dipanggil Abu Bakar yang berarti ayah dari seorang gadis, karena memang Abu Bakar mempunyai anak gadis yang bernama Aisyah yang kemudian menjadi istri Rasulullah SAW.
Dia termasuk Assabiqunal awwalun yaitu orang yang mula-mula masuk agama Islam. Mendapat julukan as Shiddiq karena dialah yang selalu membenarkan apa yang ada pada diri Rasulullah SAW. Diantara para sahabat Nabi, dialah yang tertua dan yang paling dekat hubungannya dengan Nabi. Dialah yang menemani Nabi saat berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Usianya 3 tahun lebih muda daripada Nabi.
Melihat kedekatan hubungan dengan Nabi tersebut, maka para sahabat baik sahabat Muhajirin (orang yang ikut hijrah bersama Nabi atau penduduk asli Mekkah) dan sahabat Anshor (penolong / penduduk asli Madinah) semuanya sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah yang pertama.
Pada masa kepemimpinannya, usaha-usaha yang telah dilakukannya adalah:
a) Menghadapi para pemberontak yang terdiri atas orang-orang yang murtad (keluar dari agama Islam) serta orang-orang yang tidak mau membayar zakat.
b) Menghadapi orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi (nabi palsu) seperti: Musailamah Al Kazab, Al Aswad, Tulaihah dan Sajjah Tamamiyah.
c) Mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an menjadi 1 kumpulan, mengingat banyak para sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam peperangan menghadapi orang-orang yang murtad.
Abu Bakar hanya memimpin selama 2 tahun, karena pada tahun 13 H Abu Bakar meninggal dunia karena sakit yang dideritanya dalam usia 63 tahun dan dikubur di samping makam Rasulullah.
C. Umar bin Khathab ( 13 – 23 H= 634 – 644 M)
Umar bin Khathab adalah putra Naufal Al Quraisyi dari Bani Ady. Sebelum Islam suku Bani Ady terkenal sebagai suku yang terpandang mulia, megah, dan berkedudukan tinggi. Masuk Islam pada tahun ke enam dari kenabian, berwatak keras dan pemberani, tapi juga lemah lembut sering menyamar sebagai rakyat jelata. Usaha-usaha Khallifah Umar bin Khathab antara lain :
a. Pembagian wilayah kekuasaan islam menjadi beberapa bagian (propinsi) yang masing-masing propinsi di pimpin oleh seseorang Amirul mukminin. Hal ini mengingat semakin luasnya daerah kekuasaan Islam.
b. Pembentukan dewan-dewan pemerintahan seperti dewan perbendaharaan negara (Baitul maal), dewan peradilan (Qadhil Qudhah), dewan pertahanan dsb.
c. Penetapan tahun Hijriyah yang dimulai penanggalannya dari hijrah nabi dari Mekkah ke Madinah.
d. Pembemtukan urusan kehakiman dan pembangunan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Aqsha, dll.
e. Memperluas daerah kekuasaan Islam dan penyebaran agama Islam ke beberapa daerah seperti: Damaskus, Mesir, Babilonia dan beberapa bekas jajahan Romawi Timur.
Melihat keberhasilan Umar bin Kathab ini, banyak musuh dari negara lain hendak membunuh khalifah. Maka seorang tahanan perang Nahawan yang bernama Fairus( Abu Lu’lu’) dari bangsa Persia dan menjadi hamba atau budak dari Mughiroh bin Syu’bah sakit hati dan dendam kepada khalifah atas hancurnya kekaisaran Persia. Maka pada suatu hari tepatnya pada tahun 23 H khalifah Umar meninggal dunia karena dibunuh oleh Abu Lu’lu.
D. Usman bin Affan (23 – 35 H = 644 – 656 M)
Usman bin Affan adalah putra Abdu Syam bin Abdi Manaf, lahir pada tahun ke-5 Miladiyah di Mekkah. Dia merupakan bangsaan Quraisy yang sangat kaya raya namun sangat dermawan. Oleh Rasulullah diberi gelar ZUN NURAIN yang artinya orang yang mempunyai dua cahaya. Hal ini disebabkan karena Usman menikah dengan dua puteri Rasulullah SAW yaitu dengan Siti Ruqayah dan kemudian setelah meninggal dunia, Rasulullah SAW kembali menikahkannya dengan puterinya yang lain yang bernama Umi Kulsum.
Saat diangkat menjadi khalifah Usman telah berusia70 tahun, namun demikian usaha dan jasa-jasanya selama menjadi khalifah sangat besar sekali bagi umat Islam khususnya yang menyangkut usaha pembukuan Al quran menjadi satu mushaf.
Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi perbedaan di kalangan umat Islam mengenai bacaan Al Quran. Melihat kondisi seperti ini, khalifah kemudian membentuk suatu panitia khusus yang bertugas membukukan Al Quran menjadi satu mushaf yang sama ejaan maupun bahasanya. Yang termasuk panitia ini adalah Zaid bin Tsabit sebagai ketua dibantu oleh Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Ash, dan Abdur Rahman bin Haris bin Hisyam.
Kepada panitia khalifah Usman berpesan agar berpedoman kepada hafalan para sahabat penghafal Al Quran dan jika terjadi perbedaan dalam dialek, maka dikembalikan kepada bahasa atau dialek Quraisy karena Al Quran diturunkan dengan dialek suku Quraisy. Panitia menyusun sebanyak lima buah, masing-masing dikirim ke beberapa daerah seperti: Syam, Kufah, Basrah, dan Mesir. Sedangkan yang satu tetap berada di Madinah untuk khalifah sendiri yang disebut Mushaf Al Imam.
Di samping usaha pembukuan Al Quran tersebut, khalifah Usman juga melakukan usaha perluasan daerah kekuasaan Islam, sehingga pada saat itu Islam telah mencapai Afrika (Tunisia, Sudan, Tripoli Barat) dan daerah Armenia.Khalifah Usman menghadapi pemberontakan dari beberapa golongan diantaranya adalah dari Khufah dan Basrah, demikian jugu dari Abdullah bin Abu Bakar. Khalifah dikepung oleh para pemberontak selama 40 hari lamanya, sampai akhirnya beliau dibunuh oleh para pemberontak (Abdullah bin Saba’) pada tahun 35 H.
E. Ali bin Abu Thalib ( 35 – 40 H = 656 – 661 M)
Ali bin Abu Thalib adalah anak dari paman Nabi Muhammad SAW yang bernama Abu Thalib. Sejak kecil telah bergaul dengan Rasulullah SAW karena Nabi juga diasuh oleh Abu Thalib. Setelah Nabi Muhammad SAW berkeluarga, maka Ali ikut dengan Nabi Muhammad SAW.
Ali lahir di Mekkah pada tahun 661 H. Termasuk Assabiqunal awalun dan orang yang paling muda dari beberapa orang yang pertama kali masuk agama Islam, karena pada waktu itu usianya baru 8 tahun. Dia merupakan seorang pemimpin yang cerdas, jujur, pemberani, adil, dan pandai dalam strategi perang karena setiap peperangan yang dihadapi oleh umat Islam, Ali selalu mengikutinya dan berada di barisan paling depan sebagai panglima yang mengatur strategi pasukan Islam. Setelah dewasa, Rasulullah SAW menikahkannya dengan salah satu puterinya yang bernama Siti Fatimah.
Proses pengangkatan Ali sebagai khalifah melalui musyawarah di kalangan umat Islam, namun demikian keadaan umat Islam pada waktu itu sudah mengalami perpecahan yang hebat. Banyak bermunculan golongan-golongan yang disebabkan oleh perbedaan pandangan mereka dalam hal kepemimpinan umat Islam.
Banyak peperangan yang terjadi ketika masa pemerintahan khalifah Ali, dan yang terpenting adalah peperangan Jamal dan Shiffin.
PEPERANGAN JAMAL
Dinamakan peperangan Jamal (unta) karena Siti Aisyah, istri Rasulullah SAW dan puteri Abu Bakar as Shiddiq ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai unta. Ikut campurnya Aisyah memerangi Ali terpandang sebagai hal yang luar biasa sehingga orang menghubungkan peperangan ini dengan Aisyah dan untanya, walaupun peranan yang dipegang Aisyah tidak begitu besar.
Sesungguhnya peperangan ini adalah peperangan yang pertama kali terjadi antara dua laskar dari kaum Muslimin, di mana seorang Muslim menghadapi seorang Muslim dengan amarahnya hendak menumpahkan darah saudaranya seagama.
Peperangan Jamal terjadi karena keinginan dan nafsu perseorangan yang timbul pada diri Abdullah bin Zubair dan Thalhah serta perasaan benci Aisyah terhadap Ali. Dosa Thalhah agak ringan dibanding dosa Abdullah karena Thalhah tidak sampai mempengaruhi kaum Muslimin. Dan tak ada pengaruhnya terhadap Aisyah yang dapat mendorong Aisyah agar mempengaruhi kaum Muslimin dengan menggunakan kedudukannya sebagai Ummul Mukminin.
Akan tetapi, Abdullah bin Zubair sangat bernafsu untuk menduduki kursi khalifah dan berupaya dengan sungguh-sungguh menghasut Aisyah menghidupkan api peperangan agar keinginannya menduduki kursi khalifah dapat tercapai.
Ali disalahkan karena dia dipandang tidak dapat menguasai laskarnya seluruhnya. Ketika ada usahanya hendak mencari perdamaian, diantara pengikut-pengikutnya ada yang membuat komplotan untuk menyalakan api peperangan. Andai kata beliau berwibawa penuh terhadap laskarnya, mungkin peperangan dapat dihindarkan. Yang memikul tanggung jawab atas terjadinya peperangan Jamal yang telah menelan korban puluhan ribu umat manusia adalah Abdullah bin Zubair dan Aisyah.
PEPERANGAN SHIFFIN
Peperangan Shiffin adalah peeprangan antara khalifah Ali dan Mu’awiyah. Ali dan pengikut-pengikutnya mulanya mengira bahwa peperangan yang pertama dan itu pun akan merupakan peperangan penghabisan haruslah untuk menundukkan Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang didukung penduduk Syam.
Mu’awiyah adalah anak Abu Sufyan (paman Usman) pemuka Bani Umayah yang amat disegani dan dipatuhi oleh laskarnya. Thalhah dan Zubair sebelumnya tidak dipandang musuh oleh Ali, terlebih sesudah keduanya memberikan bai’ah dan sumpah setianya kepada Ali. Begitu pula tidak seorang pun menyangka bahwa kebencian Aisyah terhadap Ali akan sampai sedemikian rupa sehingga Aisyah menceburkan diri ke dalam peperangan memimpin bala tentara melawan Ali.
Peperangan Jamal mengakibatkan gugurnya ribuan tentara Ali. Sementara itu, Mu’awiyah memperkuat laskarnya dengan membagi-bagi uang kepada mereka dan pengikutnya sehingga ikatan kesatuan mereka menjadi kuat.
Pertempuran terjadi antara kedua laskar beberapa hari lamanya. Ali dengan keberanian pribadinya dapat membangkitkan semangat dan kekuatan laskarnya, sehingga kemenangan sudah membayang baginya. Ahli-ahli sejarah yang mempelajari sejarah kehidupan Ali di bidang kemiliteran menemukan bahwa dalam setiap pertempuaran Ali selalu menang. Menang dalam peperangan Jamal, Shiffin dan beberapa peperangan dengan Khawarij. Akan tetapi, beliau kalah dalam diplomasi dan tak dapat mengelak dari tipu daya.
Ketika akhir hayat khalifah Usman bin Affan menghadapi berbagai kelompok pemberontak, maka demikian pula dengan keadaan yang dialami oleh khalifah Ali bin Abu Thalib. Oleh karena itu, pada masa pemerintahannya Ali lebih banyak menghadapi para pemberontak ini terutama pemberontakan yang dilakukan oleh gubernur Mesir yang bernama Muawiyah bin Abu Sufyan.
Hampir seluruh masa pemerintahannya habis untuk menghadapi para pemberontak, sehingga usaha dan jasa-jasa khalifah Ali tidak begitu banyak diketahui. Khalifah Ali meninggal dunia karena dibunuh oleh salah seorang golongan Khawarij yang bernama Ibnu Muljam pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.
Dengan wafatnya khalifah Ali, maka masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin telah selesai karena sesudah itu pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan secara turun-temurun, sehingga disebut Daulat / Bani Umayyah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Khulafaur Rasyidin menurut bahasa artinya para pemimpin yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Sedangkan menurut istilah yaitu para khalifah (pemimpin umat Islam) yang melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai kepala negara (pemerintah) setelah Rasulullah SAW wafat.
Pengangkatan seorang pemimpin atas dasar musyawarah yang dilakukan secara demokratis sesudah wafatnya Nabi inilah yang disebut Khulafaur Rasyidin. Jumlahnya ada 4 orang, yaitu:
a) Abu Bakar as Shiddiq ( 11 – 13 H = 632 – 634 M )
b) Umar bin Khatab ( 13 – 23 H= 634 – 644 M)
c) Usman bin Affan (23 – 35 H = 644 – 656 M)
d) Ali bin Abu Thalib ( 35 – 40 H = 656 – 661 M)
Sesudah Ali bin Abu Thalib, para pemimpin umat Islam (khalifah) tidak termasuk Khulafaur Rasyidin karena mereka merubah sistem dari pemilihan secara demokratis menjadi kerajaan, yaitu kepemimpinan didasarkan atas dasar keturunan seperti halnya dalam sistem kerajaan.
Dengan wafatnya khalifah Ali, maka masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin telah selesai karena sesudah itu pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan secara turun-temurun, sehingga disebut Daulat / Bani Umayyah.
B. Saran
Kami selaku penyusun menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Syalabi, A. 1983. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta Pusat : Pustaka Al – Husna
Suwito. 2005. Pendidikan Agama Islam untuk Kelas VIII Semester Genap. Surakarta : Mitra Mandiri
Darsono. 2009. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Tinggalkan komentar »

Ayat-ayat Syukur

Ayat-ayat Syukur
Definisi Syukur :
Memuji, berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Allah atas karunia-Nya, bahagia atas karunia tersebut dan mencintai-Nya dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.
Kewajiban Bersyukur :
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah: 172).

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al Ankabut : 17)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152)
“Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az-Zumar: 66)
Mengapa Harus Bersyukur :
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78)
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al Qashas : 73)
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS. Yasien 33-35)
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 32-34)
“Ini adalah anugerah dari Tuhanku, agar ia mencoba aku, apakah aku bersyukur ataukah aku kufur. Siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur kepada dirinya sendiri, dan siapa yang kufur, sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya dan Maha Mulia.” (QS. An Naml: 40)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl :16)
“Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Qashash : 70)
Manfaat Bersyukur :
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Luqman : 31)
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa’ : 147)
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran:145)
“Bersyukur atas nikmat Allah akan melestarikan nikmat tersebut.” (HR. Ad Dailami)
Ibnu `Abbas menceritakan, Rasulullah bersabda, “Orang pertama yanag akan dipanggil untuk masuk surga adalah orang-orang yang senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah, yaitu orang-orang yang senantiasa memuji Allah dalam keadaan lapang dan dalam keadaan sempit” (Tanbihul Ghafilin 197)
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang suka memanjatkan puji dan syukur kepada Allah” (Riyadhus Shalihin 27)
Cara Bersyukur :
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: `Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?` Tentu mereka akan menjawab: `Allah.` Katakanlah : `Segala puji bagi Allah`; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. ” (QS Luqman : 25)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar : 1-2)
“Bahwasanya Nabi SAW, apabila datang kepadanya suatu perkara yang menggembirakan atau mendapatkan kabar gembira, beliau langsung bersyukur sujud, bersyukur kepada Allah SWT.” (HR Abu Dawud)
Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam beribadah sampai beliau bengkak-bengkak, Sayidah Aisyah istrinya berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau beribadah sampai seperti itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?”
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah berceritera, “Bahwasanya salah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah mengucapkan, `Ya Rabbi, Lakal hamdu kamaa yanbaghii li jalaali wajhika wa azhiimi sulthaanika [ya Tuhanku, kepunyaan-Mulah segala puji sebagaimana yang layak bagi keluruhan-Mulah dan keagungan-Mu]`. Maka, ucapan ini menjadikan kedua malaikat bingung sehingga mereka tidak tahu bagaimana yang harus mereka tulis. Maka naiklah keduanya kepada Allah, lalu berkata, `Ya Tuhan kami, sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan suatu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana kami harus menulisnya.` Allah bertanya – padahal Dia Maha Mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba-Nya, `Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?` Mereka menjawab,`Ya Tuhan kami, sesungguhnya dia mengucapkan, Lakal hamdu kamaa yanbaghii li jalaali wajhika wa azhiimi sulthaanika.` Kemudian Allah berfirman kepada mereka, `Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku itu hingga dia bertemu Aku, maka Aku yang akan membalasnya” .(HR Ibnu Majjah)
“Siapa yang tidak berterimakasi kepada manusia, berarti tidak berterimakasih kepada Allah” (HR Abu Daud)
Syaikh Ibnu Athaillah menuturkan “Seseorang mukmin itu suka menyibukkan diri menyanjung Allah, sehingga tidak sempat untuk memuji dirinya sendiri, dan ia sibuk menunaikan kewajiban kepada Allah sehingga ia lupa akan porsi untuk dirinya sendiri”. (Al-Hikam)
Syaikh Ibnu Athaillah menuturkan: “Siapa yang tidak mengetahui begitu berharganya nikmat, ketika kenikmatan itu bersertanya, maka barulah ia mengetahui betapa berartinya nikmat itu setelah nikmat itu pergi meninggalkannya.” (Al-Hikam)
Kebanyakan Manusia Tidak Bersyukur :
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al A’raf 16-17)
“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (QS. Yunus: 60).
“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo’a kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengetakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’. Katakanlah: ‘Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya.” (QS. Al An’am: 63-64).
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Al-Fathir: 3)
“Dan ketika Kami (Allah) memberikan nikmat kepada manusia, ia memalingkan muka dan bersikap angkuh, dan ketika ia ditimpa keburukan ia berputus asa.” (QS. Al Isra’ : 83)
“Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 243)
Ancaman bagi yang Tidak Bersyukur:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al Hajj : 38)
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): `Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.`Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba` : 15-17

Tinggalkan komentar »

Bersyukur

Bersyukur (berterima kasih), kepada sesama manusia lebih cenderung kepada menunjukkan perasaan senang menghargai. Adapun bersyukur kepada Allah lebih cenderung kepada pengakuan bahwa semua kenikmatan adalah pemberian dari Allah. Inilah yang disebut sebagai syukur. Lawan kata dari syukur nikmat adalah kufur nikmat, yaitu mengingkari bahwa kenikmatan bukan diberikan oleh Allah. Kufur nikmat berpotensi merusak keimanan.
Bersyukur kepada Allah adalah salah satu konsep yang secara prinsip ditegaskan di dalam Al-Qur’an pada hampir 70 ayat. Perumpamaan dari orang yang bersyukur dan kufur diberikan dan keadaan mereka di akhirat digambarkan. Alasan kenapa begitu pentingnya bersyukur kepada Allah adalah fungsinya sebagai indikator keimanan dan pengakuan atas keesaan Allah. Dalam salah satu ayat, bersyukur digambarkan sebagai penganutan tunggal kepada Allah:
              
“Hai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik yang kami berikan kepadamu. Dan bersyukurlah kepada Allah jika memang hanya dia saja yang kamu sembah.” (Al-Baqarah: 172)
Pada ayat lain bersyukur digambarkan sebagai lawan kemusyrikan:
Baik kepadamu maupun kepada nabi sebelummu telah diwahyukan: “Jika engkau mempersekutukan Tuhan, maka akan terbuang percumalah segala amalmu dan pastilah engkau menjadi orang yang merugi. Karena itu sembahlah Allah olehmu, dan jadilah orang yang bersyukur (Az-Zumar: 65-66)
Pernyataan menantang Iblis (pada hari penolakannya untuk bersujud kepada Adam), menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:
Kemudian saya akan memperdayakan mereka dengan mendatanginya dari muka, dari belakang, dari kanan dan dari kiri. Dan Engkau tidak akan menemui lagi kebanyakan mereka sebagai golongan orang-orang yang bersyukur. (Al-A’raf: 17)
Ayat diatas menjelaskan bahwa Iblis mencurahkan hidupnya semata-mata untuk menyesatkan manusia. Tujuan utamanya untuk membuat manusia mengingkari nikmat Allah. Apabila tindakan Iblis ini direnungkan betul-betul, jelaslah bahwa manusia akan tersesat apabila mengingkari nikmat Allah.
Bersyukur kepada Allah merupakan salah satu ujian dari Allah. Manusia dikaruniani banyak kenikmatan dan diberitahu cara memanfaatkannya. Sebagai balasannya, manusia diharapkan untuk taat kepada penciptanya. Namun manusia diberi kebebasan untuk memilih apakah hendak bersyukur atau tidak:
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya dengan beban perintah dan larangan. Karena itu kami jadikan ia mendengar dan melihat. Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus: Ada yang bersyukur, namun ada pula yang kafir. (Al-Insan: 2-3)
Menurut ayat tersebut, bersyukur atau tidaknya manusia adalah tanda jelas beriman atau kafirkah ia.
Bersyukur juga berhubungan erat dengan keadaan di akhirat. Tidak ada hukuman yang dijatuhkan kepada orang beriman dan bersyukur:
Masak Allah akan menyiksamu juga jika kamu bersyukur dan beriman? Malah Allah adalah pembalas jasa kepada orang mukmin yang bersyukur serta Maha Mengetahui. An-Nisa: 147
Ayat ini bersama dengan sejumlah ayat lain memberikan berita baik kepada orang-orang yang bersyukur kepada pencipta mereka:
Dan ingat pulalah ketika Tuhanmu memberikan pernyataan: “Jika kamu bersyukur pasti Kutambah nikmatKu kepadamu; sebaliknya jika kamu mengingkari nikmat itu, tentu siksaanku lebih dahsyat. (Ibrahim: 7) Karunia itulah yang disampaikan Allah sebagai berita gembira kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan kebaikan. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku ini, kecuali hanya kasih sayang dalam kekeluargaan. Siapa yang mengerjakan kebaikan, Kami lipat gandakan kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penilai. (Ash-Syura: 23) Kaum Luthpun telah mendustakan peringatan Tuhan. Kami hembuskan kepada mereka angin puyuh, kecuali kaum keluarga Luth, mereka telah kami selamatkan sebelum fajar menyingsing. Suatu anugrah dari kami. Demikianlah kami memberi ganjaran kepada siapa yang bersyukur. (Al-Qamar: 33-35)
“Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu” (An-Nahl: 18). Menurut ayat tersebut, jangankan menghitung nikmat, mengkategorikannya saja tidak mungkin sebab nikmat Allah tidak terbatas banyaknya. Karenanya seorang mukmin tidak seharusnya menghitung nikmat, melainkan berdzikir dan mewujudkan rasa syukurnya.
Anggapan kebanyakan orang, bersyukur kepada Allah hanya perlu dilakukan pada saat mendapatkan anugrah besar atau terbebas dari masalah besar adalah keliru. Padahal jika mau merenung sebentar saja, mereka akan menyadari bahwa mereka dikelilingi oleh nikmat yang tidak terbatas banyaknya. Setiap waktu setiap menit, tercurah kenikmatan tak terhenti seperti hidup, kesehatan, kecerdasan, panca indra, udara yang dihirup…; pendek kata segala sesuatu yang memungkinkan orang untuk hidup diberikan oleh Allah. Sebagai balasan semua itu, seseorang diharapkan untuk mengabdi kepada Allah sebagai rasa syukurnya. Orang-orang yang tidak memperhatikan semua kenikmatan yang mereka terima, dengan demikian telah mengingkari nikmat (kufur). Mereka baru mau bersyukur apabila semua kenikmatan telah dicabut. Sebagai contoh, kesehatan yang tidak pernah mereka akui sebagai nikmat baru mereka syukuri setelah mereka sakit.
Al-Qur’an memerintahkan untuk mengingat nikmat Allah berulang-kali karena manusia cenderung melupakannya. Seluruh buku yang ada di dunia ini tidak akan cukup untuk menulis nikmat Allah. Allah menciptakan manusia dalam bentuknya yang sempurna, memiliki panca indra yang memungkinkan manusia untuk merasakan dunia di sekelilingnya, membimbingnya menuju jalan yang benar melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits, menciptakan air segar dan makanan yang berlimpah, melancarkan pelayaran, yang kesemuanya itu ditujukan untuk keuntungan manusia. Setiap orang yang berdoa dan berbuat baik pasti juga bersyukur kepada Allah sebab orang-orang yang mengingkari nikmat Allah pasti juga tidak pernah ingat kepada Allah. Seseorang yang bertingkah laku seperti hewan, mengkonsumsi segala sesuatu yang diberikan padanya tanpa mau berfikir mengapa semua itu dianugrahkan dan siapa yang menganugrahkan, sudah selayaknya mengubah tingkah laku seperti itu. Sebaliknya, bersyukur hanya di saat menerima nikmat besar saja tidak akan berarti. Itulah sebabnya orang mukmin hendaknya tidak pernah lupa untuk bersyukur kepada Allah.
Dari Al-Qur’an kita juga tahu bahwa hanya orang-orang yang bersyukurlah yang mau mengakui tanda-tanda kekuasaan Allah di dunia dan mengambil pelajaran darinya. Ayat-ayat di bawah ini menguraikan hal tersebut:
Adapun tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh dengan subur dengan izin Allah. Dan tanah yang gersang, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kebesaran kami bagi orang-orang yang bersyukur. (Al-A’raf: 58)
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Musa kepada Bangsa Israil, dengan beberapa mukjizat dari kami sebagai pengukuhan dan disertai perintah dari Kami: “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kejahilan kepada cahaya iman yang terang-benderang, serta ingatkanlah mereka kepada “Hari-hari Allah”(Maksudnya, hari-hari yang penuh suka dan duka. Suka karena beroleh bahagia, dan duka karena ditimpa malapetaka, baik yang telah terjadi pada bangsa-bangsa sebelum Musa, maupun yang terjadi di zaman Musa sendiri). Dalam hal yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi orang-orang yang selalu sabar dan bersyukur Maksudnya sabar jika kedatangan malapetaka, dan bersyukur jika beroleh kebahagiaan. Baik dan buruk, bahagia dan malapetaka tidak akan luput dari kehidupan manusia di dunia ini. Karena itu, sabar dan bersyukur adalah senjata ampuh yang wajib dipegang teguh selamanya)(Ibrahim: 5).
Apakah engkau tidak perhatikan, bahwa kapal itu dapat berlayar di lautan karena Karunia Allah jua Karunia Allah di sini ialah kodratNya yang menundukkan lautan dan angin, supaya kapal-kapal layar dapat berlayar di lautan), untuk diperlihatkanNya kepadamu di antara tanda-tanda kekuasaanNya. Dalam hal ini terdapat bukti-bukti kenyataan bagi semua orang yang sabar dan bersyukur. (Luqman: 31).
Namun begitu mereka berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak hubungan antara kami dan Syria” (Tujuan permintaan ini supaya negeri-negeri yang berdekatan itu dihapuskan, agar jarak perjalanan menjadi jauh dan panjang, sehingga terbuka kesempatan untuk melakukan monopoli dalam perdagangan) Itu berarti mereka menganiaya diri sendiri. Karena itu Kami jadikan peristiwa mereka jadi buah tutur, lalu kami ganyang mereka sehancur-hancurnya. Peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap yang sabar dan bersyukur. (Saba: 19)
Hikmah maupun bukti yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang dikaruniai wawasan dan kepekaan yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang bersyukur.
Wawasan dan kepekaan tersebut merupakan balasan atas rasa syukur kepada Allah. Sebaliknya orang-orang yang ingkar dan tidak peka, untuk memperhatikannya pun mereka enggan.
Di dalam banyak ayat, Allah menasehati para rasulNya. Salah satunya adalah Musa, untuk bersyukur:
Allah berfirman: “Hai Musa! Sesungguhnya Aku telah memilihmu melebihi dari manusia yang lain untuk mengemban tugas kerasulan-Ku dan untuk berbicara secara langsung dengan-Ku. Oleh karena itu, pegang teguhlah Syari’at yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah engkau menjadi orang yang bersyukur. (Al-A’raf: 144)
Di dalam surat Al-Ahkaf ayat 15, seorang mukmin di dalam kematangannya (umur 40 tahun diacu di dalam Al-Qur’an sebagai umur kematangan), berdoa supaya dijadikan orang yang bersyukur:
Kami perintahkan kepada manusia supaya: Berbuat baik kepada kedua ibu-bapak. Ibunya mengandung dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandung sampai dengan menyapihnya, tigapuluh bulan (Dihitung menurut masa kandungan yang terpendek, yaitu enam bulan. Ditambah dengan masa penyusuan yang sempurna yaitu duapuluh empat bulan (2 tahun), menjadi tigapuluh bulan). Sehingga manakala ia sampai dewasa, usianya cukup empatpuluh tahun, dia mendoa: “Ya Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku bagaimana mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku. Jadikanlah amal perbuatanku sesuai dengan keridhaanMu dan berikanlah kebaikan kepadaku berkelanjutan sampai kepada anak-cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu, dan aku adalah orang yang berserah diri. (Al-Ahkaf: 15)
Diterjemahkan dari buklet “The Basic Concepts in The Qur’an” karya Harun Yahya http://www.harunyahya.com. Terjemahan Al-Qur’an dikutip dari “Terjemah dan Tafsir Al-Qur’an” susunan Bachtiar Surin terbitan Fa. SUMATRA. Bandung.

Tinggalkan komentar »